Karhutla Kembali Mengancam Kalimantan, Bagaimana Cara Mencegahnya?

8 August 2026 10:49

Jakarta: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di sejumlah wilayah di Kalimantan. Memasuki musim kemarau ratusan titik panas, hotspot terdeteksi dan memicu kebakaran hutan serta lahan di sejumlah daerah saat ini. Kondisi ini tidak hanya merusak lingkungan saja, tapi juga memicu kabut asap yang berdampak pada kesehatan dan juga aktivitas masyarakat.


Karhutla di Kalimantan Timur


Berdasarkan data per 4 Agustus 2026, ada sebanyak 256 titik panas di Kalimantan Timur dengan luas lahan terdampak bisa mencapai 43.608 hektare. Di Kotawaringin Timur ada 132,2 hektare lahan yang sudah terbakar. Di Sukamara 124 hektare, di Kota Palangkaya 153 kejadian kebakaran hutan dengan total 256 hotspot yang terdeteksi dan 43.000 hektare lahan yang terdampak. 

Hotspot bukan berarti sudah terbakar, hotspot terpantau adalah lokasi-lokasi yang ada titik panas, suhunya lebih panas dibandingkan dengan kawasan-kawasan lainnya. Inilah yang harus diwaspadai dan kemudian dipetakan oleh pihak-pihak berwenang untuk mencegah karhutla semakin meluas.

Karhutla di Kalimatan Barat


Per 5 Agustus ada 885 titik hotspot, titik panas yang tersebar di 9 kabupaten-kota yang ada di Kalimantan. Karhutla yang terjadi di Ketapang menghanguskan kurang lebih 40 hektare lahan gambut. Ada dua titik di Kabupaten Sanggau dan juga ada di Kabupaten Ketapang. 


Penyebab karhutla


Ada beberapa faktor yang memicu karhutla terus berulang. Pertama cuaca yang kering dan kemudian menurunnya curah hujan saat ini. Ini menjadi salah satu penyebab terjadinya kebakaran hutan yang semakin masif di Kalimantan.

Yang kedua adalah masih banyaknya yang melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar lahan. Kondisi lahan gambut yang mudah terbakar juga menjadi salah satu alasan mengapa kebakaran hutan di Kalimantan tetap terjadi dan susah untuk ditangani, karena ibarat arang di dalam tungku yang susah untuk dipadamkan. Panasnya atau kebakarannya bisa terjadi di atas permukaan sampai 2 meter ke dalam tanah.

Kemudian ada angin yang mempercepat penyebaran api, ini juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan karhutla masih terus terjadi. 

Dampak karhutla


Selanjutnya apa dampaknya kalau seandainya karhutla ini terjadi dan susah untuk dipadamkan? Yang pertama sudah pasti terjadi kerusakan hutan dan juga ekosistem karena kebakaran yang besar sekali terjadi, ada ratusan hektare. 

Kemudian ada kabut asap yang memicu banyak gangguan kesehatan mulai dari ISPA kemudian banyak keluhan-keluhan yang disampaikan oleh masyarakat karena kabut asap bisa terjadi tidak hanya di lokasi titik kejadian saja, titik kebakaran saja, tapi juga sampai ke permukiman yang ada di dekat titik kebakaran tersebut.

Peningkatan emisi karbon. Banyaknya lahan gambut yang terbakar, berarti akan banyak karbon yang dilepaskan pada saat kebakaran tersebut terjadi. Dan durasi kebakarannya akan semakin lama terjadi karena susah dipadamkan pada saat terjadi kebakaran di lahan gambut. Terakhir adalah terganggunya transportasi dan aktivitas masyarakat.

Upaya pemadaman karhutla


Selain terjadi kabut asap, dan juga masalah kesehatan, akumulasinya akan mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari. Saat ini pemerintah dan Satgas Gabungan masih terus melakukan berbagai upaya penanganan. Sejumlah upaya pemadaman kebakaran hutan yang masih dilakukan saat ini.

Pertama, pemadaman darat, kemudian menggunakan helikopter waterbombing, karena pemadaman api susah kalau dilakukan hanya dari darat saja, maka dilakukan dropping water dari helikopter. Kemudian ada operasi modifikasi cuaca, OMC, kerjasama dengan BMKG yang sudah dilakukan saat ini. Kemudian juga ada pendirian posko, siaga, dan respons cepat di wilayah rawan karhutla. 

Kolaborasi sejumlah pihak dan upaya pencegahan tetap menjadi kunci supaya Karhutla tidak terus berulang di setiap musim kemarau.

Sumber: Redaksi Metro TV

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X