8 February 2026 23:28
Menteri Lingkungan Hidup (LH) sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, melakukan inspeksi mendadak (sidak) kebersihan di sejumlah titik di Kota Surabaya. Langkah ini diambil guna memverifikasi penilaian penghargaan Adipura bidang tata kelola sampah nasional.
Meski Surabaya tercatat sebagai satu dari tiga kota dengan nilai pengelolaan sampah tertinggi di Indonesia, Hanif masih menemukan sejumlah catatan merah yang perlu dibenahi, terutama di kawasan pinggiran kota.
Dalam sidaknya, Hanif meninjau beberapa lokasi, mulai dari ruas jalan protokol, Kampung Pancasila RW 7 Kelurahan Wonokromo, hingga Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) Sumberrejo di Kecamatan Pakal.
Hanif menilai penanganan sampah di kawasan tengah kota dan jalan-jalan protokol sudah cukup baik. Namun, kondisi berbeda ditemukan di wilayah pinggiran.
"Saya lihat di sungainya masih ada problem, banyak sampah yang menimbun. Kemudian sepanjang jalan juga masih cukup banyak TPS liar yang mungkin merupakan lapak-lapak pengumpul sampah," ujar Hanif.
Evaluasi Nilai Adipura
Hanif menegaskan bahwa temuan lapangan ini akan menjadi bahan evaluasi serius. Pihaknya akan melakukan kalibrasi ulang terhadap nilai tinggi yang sebelumnya diberikan oleh tim penilai Adipura kepada Kota Surabaya.
"Surabaya ini termasuk satu dari tiga kota yang nilainya paling tinggi. Jadi untuk melihat langsung maka saya perlu turun, karena ini penghargaan baru pertama akan diberikan (di era kabinet ini). Tentu nilai tinggi yang dilakukan oleh tim akan kita kalibrasi kembali," tegasnya.
Terkait maraknya TPS liar dan pengepul sampah tak berizin, Menteri LH meminta pemerintah daerah setempat untuk melakukan penertiban. Solusi yang ditawarkan bisa melalui skema penegakan hukum yang tegas atau penyediaan fasilitas pengolahan sampah yang legal dan memadai agar masalah tidak berlarut-larut.