11 January 2026 23:31
Ada masa di mana film bukan sekadar tontonan, tapi menjadi bagian dari cara kita tumbuh dan memahami hidup.
Kita pernah menyebut judul film dengan sepenuh perasaan. Bertanya Ada Apa dengan Cinta? dan menemukan diri kita di dalamnya. Lalu berlari bersama Petualangan Sherina, belajar tentang mimpi dan keberanian menjadi diri sendiri.
Kita pun pernah terdiam menyaksikan Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak. Sebuah cerita tentang amarah, perlawanan, dan keadilan. Lalu masuk ke dunia fiksi yang mengajak kita menyelami batas antara yang nyata dan yang tidak.
Di sisi lain, kita juga diajak pulang ke rumah yang sederhana namun penuh makna bersama Keluarga Cemara, serta menyusun pilihan hidup lewat Dua Garis Biru yang mengajarkan bahwa tumbuh tidak selalu mudah dan dewasa terkadang datang terlalu cepat.
Film-film ini lahir dari proses yang panjang. Dari konflik, dari kompromi, dan dari keberanian untuk tetap jujur pada cerita.
Riri Riza, Mouly Surya, dan Gina S. Noer hadir dalam satu meja untuk membicarakan secara terbuka realita menjadi orang yang paling sibuk di balik layar lebar.
Bagaimana film Indonesia bergerak di antara tuntutan pasar lokal dan ekspektasi internasional? Seperti apa proses kreatif yang mereka jalani di bawah tekanan industri, serta benturan idealisme yang muncul?