Wabah virus Ebola di Republik Demokratik Kongo dilaporkan kian mengkhawatirkan. Organisasi kemanusiaan Dokter Lintas Batas (Médecins Sans Frontières/MSF) memperingatkan bahwa kecepatan penyebaran virus saat ini telah jauh melampaui kemampuan penanganan medis di lapangan.
Tingkat fatalitas wabah ini masuk dalam kategori sangat kritis. Dalam beberapa hari terakhir, MSF mencatat rata-rata satu orang meninggal dunia akibat Ebola setiap 30 menit.
Hingga 18 Agustus 2026, tercatat lebih dari 5.200 kasus Ebola telah terkonfirmasi dengan jumlah korban tewas mencapai sekitar 2.400 jiwa. Ironisnya, sekitar 62 persen dari total kematian tersebut justru terjadi di luar pusat perawatan. Banyak pasien yang akhirnya meninggal dunia di rumah atau lingkungan tempat tinggalnya tanpa sempat mendapatkan penanganan medis khusus.
Merespons krisis darurat ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengalokasikan 70.000 dosis vaksin Ervebo untuk Kongo. Sebanyak 50.000 dosis diprioritaskan bagi tenaga kesehatan dan petugas garda terdepan, sementara 20.000 dosis sisanya akan digunakan untuk keperluan uji klinis fase ketiga.
Nakes Tuntut Penghentian Serangan
Di tengah situasi darurat kesehatan yang mendesak, ratusan tenaga kesehatan (nakes), warga, dan kelompok masyarakat sipil justru harus turun ke jalan di Kota Beni, Kongo. Aksi unjuk rasa ini dipicu oleh penyerangan terhadap tim Palang Merah pada pekan ini.
Dengan mengenakan kaus bertuliskan "Stop Ebola" dan diiringi tabuhan drum serta alunan saksofon, para demonstran membawa spanduk berisi pesan-pesan pencegahan. Mereka menuntut secara tegas agar segala bentuk serangan terhadap tim penanganan Ebola segera dihentikan.
Para demonstran menegaskan bahwa mereka tidak ingin wabah Ebola terus menjadi ancaman mematikan di Kota Beni. Mereka menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk memberikan dukungan penuh kepada tim kesehatan, lantaran kekerasan dan penolakan warga terbukti membuat penanganan wabah ini semakin sulit dikendalikan.