NasDem Peduli Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa di Sikka

19 August 2026 16:59

Sikka: Lima hari pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Partai NasDem melalui aksi NasDem Peduli bergerak cepat memberikan bantuan kemanusiaan bagi warga terdampak di wilayah kepulauan Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Rombongan harus menyusuri perairan untuk menjangkau lokasi pengungsian yang sulit diakses di Pulau Kojadoi dan Pulau Pemana.

Perjalanan ini dilakukan guna memastikan bantuan tiba langsung di tangan warga. Bantuan tersebut menyasar tiga desa, yakni Desa Kojadoi di Pulau Kojadoi, serta Desa Pemana dan Desa Gunungsari di Pulau Pemana.

Dalam aksi kemanusiaan ini, NasDem menyalurkan bantuan logistik berupa 2,1 ton beras, 200 lembar selimut, dan 100 lembar terpal. Bantuan ini sangat dinantikan oleh warga, mengingat tantangan geografis yang membuat bantuan dari pihak lain seringkali membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai ke wilayah kepulauan.

Tercatat sebanyak 284 warga Desa Kojadoi masih berada di pengungsian. Sementara di Desa Pemana, jumlah pengungsi mencapai 584 jiwa. Mayoritas dari mereka merupakan kelompok rentan, mulai dari bayi, anak-anak, ibu hamil, hingga lanjut usia.

Bagi sebagian warga Desa Kojadoi ini kedatangan Partai NasDem Peduli membawa arti tersendiri. Bantuan yang disalurkan sebagai bantuan pertama yang diterima oleh warga di pulau ini setelah gempa. 

Salah satu warga Pemana menggambarkan pascagempa mereka belum juga mendapatkan bantuan hingga belum memiliki terpal, bahkan ia dan keluarga bertahan di bawah pepohonan. Ia bersama keluarganya baru menerima bantuan pertama dari Partai NasDem. 

"Sudah dari pertama gempa kami di sini. Kami tidur di bawah pohon karena belum ada tenda. Untuk makanan, awalnya kami hanya makan ubi kayu karena belum ada nasi. Terima kasih Ibu Julie atas bantuan terpalnya," ujar Susilawati dalam tayangan Breaking News Metro TV, Rabu 19 Agustus 2026. 

Anggota DPRD Kabupaten Sikka dari Fraksi NasDem, Heriawan, yang ikut dalam rombongan, menjelaskan bahwa pihaknya terus melakukan penyisiran ke kamp-kamp pengungsian mandiri yang dibangun warga di daerah perbukitan dan perkebunan.

"Kondisinya hingga hari keempat dan kelima ini, warga masih tidur beralaskan tikar seadanya. Banyak yang belum memiliki terpal dan selimut, terutama bagi anak-anak dan lansia yang sangat rentan terhadap cuaca malam," jelas Heriawan.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X