24 September 2026 12:04
Jakarta: Pakar strategi Pusat Pengkajian dan Penerapan Angkatan Udara (PPAU) Agung Sasongkojati mengungkap sejumlah fungsi strategis KRI Sriwijaya-100 bagi Indonesia, mulai dari pangkalan udara terapung, penguatan kemampuan operasi maritim, hingga dukungan misi kemanusiaan dan penanganan bencana.
Agung mengatakan KRI Sriwijaya dapat berfungsi sebagai pangkalan udara bergerak yang memungkinkan Indonesia mengoperasikan armada udara dari laut. Menurutnya, kemampuan ini penting bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan wilayah yang luas dan sejumlah daerah yang sulit dijangkau dari pangkalan udara di daratan.
“Indonesia ini negara kepulauan. Jadi kapal induk ringan seperti Garibaldi ini bisa berfungsi sebagai mobile floating airbase,” kata Agung dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Kamis 24 September 2026.
Menurut Agung, KRI Sriwijaya dapat membawa sejumlah helikopter berat, termasuk Super Puma, helikopter antikapal selam seperti Panther atau Sikorsky S-70, serta menjadi platform bagi pesawat tanpa awak atau drone.
KRI Sriwijaya juga dapat menjadi pusat komando untuk mengoordinasikan kekuatan maritim yang beroperasi di laut.
“Ini juga bisa menjadi tactical command, bisa menghubungkan antara kapal permukaan, kapal selam, fighter aircraft, drone dan sebagainya,” ujarnya.
Agung menilai keberadaan KRI Sriwijaya juga dapat memperkuat kemampuan operasi maritim Indonesia. Kapal tersebut dapat mendukung operasi antikapal selam melalui penggunaan helikopter, sonar, dan torpedo serta mengoperasikan drone untuk memperluas kemampuan pengawasan.
Agung menyebut KRI Sriwijaya dapat digunakan untuk mendukung operasi keamanan maritim dan penegakan hukum di wilayah zona ekonomi eksklusif (ZEE) yang jauh dari dukungan pangkalan darat.
“TNI Angkatan Laut kita bisa memimpin operasi pengamanan maritim dan penindakan hukum di wilayah ZEE secara mandiri tanpa tergantung dukungan pada pangkalan darat. Kehadirannya bisa memposisikan kita sebagai jajaran kekuatan tempur utama di kawasan Asia Tenggara,” ujar Agung.
Fungsi strategis lainnya, kata Agung, berkaitan dengan penanganan bencana dan misi kemanusiaan. KRI Sriwijaya dapat membawa logistik serta mengerahkan helikopter ke wilayah terdampak bencana yang akses jalannya terputus.
“Kalau terjadi bencana di Sumatra Barat misalnya, jalan-jalan terputus, kapal induk ini bisa berada di sekitar pantai barat Sumatra dan kemudian helikopter bisa dengan cepat melakukan shuttle,” ujarnya.
Menurut Agung, kemampuan tersebut memungkinkan bantuan dikirim dari laut tanpa sepenuhnya bergantung pada akses darat.
Sebelumnya, kapal induk eks Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya-100 pada Kamis, 24 September 2026. Prosesi reflagging atau pergantian bendera dari Italia ke Merah Putih serta shipnaming berlangsung di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.