Sapto Haryo Prediksi Final Piala Dunia 2026 Ulangi Duel Argentina vs Prancis

4 July 2026 11:36

Pengamat sepak bola Sapto Haryo Rajasa memprediksi partai final Piala Dunia 2026 akan kembali mempertemukan Argentina dan Prancis. Menurutnya, kedua tim masih menjadi favorit utama karena memiliki kualitas skuad yang paling lengkap dibandingkan kontestan lainnya.

"Saya melihat Prancis paling oke, Argentina paling oke jadi ulangan kemarin yang menang cuma beda kali ini," kata Sapto dikutip dari program Meet Nite Live Metro TV, Sabtu 4 Juli 2026.

Ia mengaku sebenarnya memiliki harapan melihat Spanyol melaju hingga final, tetapi bagan pertandingan membuat peluang tersebut cukup berat. Namun, setelah melihat jalur pertandingan, peluang Spanyol mencapai partai puncak menjadi lebih sulit.

"Kalau maunya kan Spanyol. Tapi pas lihat bracket ketemunya mentoknya di semifinal," ujarnya.

Menurut Sapto, kekuatan Argentina tidak hanya terletak pada ketajaman Lionel Messi, tetapi juga kolektivitas permainan yang membuat setiap pemain mampu menjalankan perannya dengan baik.

"Kalau Messi kan pemain-pemain lain mainnya as a unit yang utuh. Itu yang membedakan," katanya.

Ia menilai permainan tim yang solid membuat Argentina tidak bergantung sepenuhnya kepada satu pemain. Kehadiran Messi justru semakin maksimal karena didukung rekan-rekannya yang mampu menjaga ritme permainan sepanjang pertandingan.

Sementara itu, Sapto menilai Portugal masih sangat mengandalkan Cristiano Ronaldo sebagai penyelesai akhir serangan. Menurutnya, anggapan bahwa Ronaldo sudah habis tidak sepenuhnya benar.

"Orang bilang Ronaldo sudah habis, orang bilang selalu sulit mencetak gol. Tapi kalau pemain depan enggak dikasih umpan yang enak ya susah juga dia untuk mencetak gol," ujar Sapto.

Ia menjelaskan bahwa Ronaldo kini lebih berperan sebagai finisher.

"Dia bukan tipe yang berkreasi lagi, yang lari dari belakang, giring bola. Sekarang dia tipe finisher. Itu terlihat ketika lawan Uzbekistan, dia bisa bikin gol dengan umpan yang memang dia suka," katanya.

Sapto juga menyoroti langkah Jepang yang harus terhenti di babak 16 besar setelah menghadapi Brasil. Menurutnya, Jepang sebenarnya tampil cukup baik sepanjang turnamen, tetapi menghadapi lawan yang terlalu kuat.

"Satu, apes ketemu Brasil. Itu apes sih. Brasil tetap Brasil. Brasil tetap punya kualitas. Lima kali juara dunia itu enggak bohong," ucapnya.

Selain kualitas lawan, ia menilai Jepang masih memiliki persoalan mental ketika tampil pada laga-laga besar.

"Nah Jepang, menurut saya dia enggak punya mental di pertandingan penting. Mereka punya mental block yang enggak bisa mereka kuasai, enggak bisa mereka selesaikan," jelasnya.

Saat ditanya mengenai peluang tim kejutan di babak gugur, Sapto mengakui Norwegia dan Maroko layak mendapat perhatian. Namun ia meragukan Cape Verde mampu membuat kejutan dengan menyingkirkan Argentina.

"Kalau Cape Verde sih apa pun yang didapat sudah sejarah. Debutan bisa masuk ke 32 besar. Tapi untuk melawan tim seperti Argentina, lagi-lagi kita bicara mental dan sejarah, kayaknya masih terlalu berat," katanya.

Sapto juga memberikan pandangannya mengenai duel Portugal kontra Spanyol yang menjadi salah satu laga paling dinantikan di fase gugur. Menurutnya, performa Portugal tidak hanya ditentukan oleh Ronaldo, tetapi juga kontribusi para pemain di lini tengah.

"Portugal bukan gara-gara Ronaldo saja. Setelah Vitinha dan Bruno Fernandes diganti, kemudian Roberto Martinez melakukan pergantian empat pemain, cara bermain Portugal langsung berubah," ujarnya.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X