Pesona Karst Rammang-Rammang: Destinasi Kelas Dunia yang Kini Lebih Mudah Dijangkau

9 August 2026 12:33

Sulawesi Selatan menyimpan salah satu kekayaan alam paling mengagumkan di dunia, yakni kawasan Karst Rammang-Rammang, yang terletak di Kabupaten Maros. Kawasan ini tercatat sebagai sistem tower karst terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok, dan kini keindahan warisan dunia ini semakin mudah dinikmati oleh wisatawan dengan hadirnya moda transportasi kereta api.

Perjalanan menuju Rammang-Rammang kini menawarkan pengalaman berbeda. Wisatawan dapat menggunakan kereta api Sulawesi Selatan dan turun di Stasiun Maros. Moda transportasi ini menjadi alternatif yang nyaman, cepat, dan menyuguhkan pemandangan lanskap hijau serta permukiman warga di sepanjang jalan.

"Moda transportasi kereta api ini menjadi alternatif yang nyaman dan juga cepat bagi wisatawan," kata jurnalis Metro TV, Sabda Rolle, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Minggu, 9 Agustus 2026.

Menyusuri Sungai Pute Menuju Kampung Berua


Setibanya di Maros, petualangan berlanjut ke Desa Salenrang. Untuk menikmati gugusan pegunungan kapur yang ikonik, pengunjung harus menggunakan perahu dari Dermaga 2 untuk menyusuri Sungai Pute. Biaya sewa perahu dimulai dari Rp200 ribu, tergantung pada jumlah penumpang.

Selama perjalanan menyusuri sungai, mata akan dimanjakan dengan pahatan alami bebatuan karst yang terbentuk selama jutaan tahun. Di ujung aliran sungai, terdapat Kampung Berua, sebuah permukiman tenang yang terletak di tengah lembah dan dikelilingi tebing karst menjulang tinggi.

Warisan Dunia UNESCO Global Geopark


Sejak tahun 2017, kawasan Maros-Pangkep telah ditetapkan sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark. Status ini menegaskan posisi Rammang-Rammang sebagai situs penting untuk pelestarian, pendidikan, dan pariwisata berkelanjutan.

General Manager Maros-Pangkep UNESCO Global Geopark, Dedy Irfan Bachri, menjelaskan bahwa kawasan ini memiliki nilai geologi yang spektakuler. "Sistem tower karst di sini umurnya sekitar 25 juta hingga 50 juta tahun yang lalu. Selain nilai geologinya, kawasan ini juga kaya akan biodiversitas seperti elang laut dan atraksi ribuan kelelawar setiap pukul enam sore," ungkap Dedy.

   

Daya Tarik Wisatawan Mancanegara


Keunikan Rammang-Rammang tidak hanya menarik wisatawan domestik, tetapi juga mancanegara. Paul Leijdekkers, seorang wisatawan asal Belanda, mengaku terkesan dengan ketenangan dan keindahan alam Indonesia.

"Ini pertama kali kami di sini. Kami sangat menyukainya, sangat indah dan tenang. Kami menemukan informasinya di internet dan memutuskan datang karena tempat ini terlihat sangat cantik," kata Paul.

Pelestarian Berbasis Masyarakat


Pemerintah Kabupaten Maros terus berkomitmen menjaga kelestarian lingkungan dengan melibatkan masyarakat lokal. Melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), warga diberdayakan untuk mengelola kawasan wisata sekaligus menjadi garda terdepan dalam menjaga kebersihan.

Bupati Maros, Chaidir Syam, menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai stakeholder dalam pembinaan kawasan ini. "Kami melibatkan Pokdarwis untuk mengelola kawasan. Pemerintah pusat melalui kementerian dan pemerintah daerah terus melakukan pembinaan agar pariwisata berjalan beriringan dengan konservasi," tegas Chaidir.

Rammang-Rammang bukan sekadar destinasi wisata, melainkan warisan alam dunia yang harus dijaga kelestariannya. Perpaduan antara kemegahan tebing karst, ketenangan Sungai Pute, dan budaya masyarakat lokal menjadikannya ikon pariwisata yang tak ternilai bagi Indonesia.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X