23 February 2026 21:59
?Kasus anak yang nekat mengakhiri hidupnya sendiri bak fenomena gunung es yang semakin mengkhawatirkan. Duka mendalam belum usai dari kasus seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur yang bunuh diri akibat himpitan ekonomi. Mirisnya, rentetan kasus serupa terus terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dari hasil skrining terhadap 27 juta masyarakat Indonesia, ditemukan fakta mengejutkan: angka depresi dan gangguan kecemasan pada anak dan remaja tercatat lima kali lipat lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa dan lansia.
Dari 7,2 juta anak yang mengikuti tes, sebanyak 4,8% (lebih dari 300 ribu anak) terindikasi mengalami gangguan depresi, dan 4,4% mengalami gangguan kecemasan.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, sepanjang tahun 2023 terdapat 46 kasus anak mengakhiri hidup. Angka ini berlanjut menjadi 43 kasus di 2024, 27 kasus di 2025, dan setidaknya 5 kasus di awal tahun 2026 ini. Angka tersebut menempatkan Indonesia pada posisi tertinggi di Asia Tenggara terkait kasus bunuh diri anak.
Beberapa kasus tragis di awal 2026 menjadi tamparan keras. Pada 12 Februari lalu, seorang anak perempuan (13) di Demak, Jawa Tengah, ditemukan tewas oleh ibunya. Polisi menemukan riwayat pesan makian dari sang ibu di ponsel korban. Kasus serupa juga menimpa pelajar SMP (14) di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Lebih memprihatinkan lagi, darurat mental ini tidak hanya mengancam nyawa diri sendiri, tetapi juga nyawa orang lain. Di Cimahi, Jawa Barat, seorang remaja (16) tega menghabisi nyawa temannya (14) hanya karena diputus hubungan pertemanan.
Tantangan Pola Asuh Era Digital
Derasnya arus informasi dan kecanggihan teknologi tak bisa dipungkiri menjadi salah satu pemicu. Psikolog Anak, Intan Erlita, menjelaskan bahwa pemicu bunuh diri pada anak sangat kompleks dan tidak berdiri tunggal.
"Anak-anak ini sering kali tidak tahu bagaimana cara menyalurkan emosi atau beban masalahnya. Saat mereka mencari pelarian di internet tanpa pendampingan, mereka bisa terinspirasi oleh konten negatif untuk mengambil keputusan ekstrem," jelas Intan.
Menghadapi tantangan ini, kehadiran orang tua menjadi sangat vital. Nadya, ibu dari dua anak remaja, membagikan pengalamannya. Menurutnya, parenting era modern tidak bisa disamakan dengan zaman dulu. Orang tua dituntut untuk hadir, bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi, tetapi benar-benar mendengarkan.
"Kita harus mau jadi teman mereka sejak kecil. Saat anak saya pulang sekolah dan ingin cerita, saya akan tinggalkan pekerjaan saya sebentar untuk mendengarkan. Jangan sampai posisi kita sebagai tempat curhat digantikan oleh hal-hal negatif di internet," ungkap Nadya.
Nadya bahkan mengaku tidak ragu meminta bantuan profesional (psikolog) saat ia merasa kesulitan memahami kemauan anaknya.
Kenali Tanda Depresi pada Anak
Psikolog Intan Erlita mengimbau para orang tua untuk peka terhadap perubahan fisik dan psikis anak yang berlangsung lebih dari dua minggu. Beberapa ciri anak yang mengalami depresi antara lain: