GP NasDem Gagas Program ‘Ruang Aman untuk Perempuan’ Sebagai Solusi Kesehatan Mental

22 July 2026 14:37

Isu perlindungan perempuan dan kesehatan mental menjadi salah satu topik krusial yang dibahas dalam momentum Kongres II Garda Pemuda (GP) NasDem yang bertepatan dengan HUT ke-15 organisasi tersebut.

Partai NasDem melalui sayap pemudanya mewacanakan pembentukan program 'Ruang Aman untuk Perempuan' sebagai solusi nyata atas berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat.

Anggota Komisi X  DPR sekaligus Steering Committee Kongres II GP NasDem, Ratih Megasari Singkarru, menjelaskan bahwa gagasan ini berangkat dari kenyataan pahit yang dihadapi banyak perempuan. Mulai dari ibu rumah tangga, perempuan pekerja, hingga orang tua tunggal.

Beban ganda dan kebutuhan pendampingan profesional

Menurut Ratih, banyak perempuan saat ini memikul beban ganda. Meski suami dan istri sama-sama bekerja mencari nafkah, beban domestik dan pengasuhan anak seringkali masih diberatkan sepenuhnya kepada pihak perempuan.

"Banyak di luar sana perempuan-perempuan yang butuh teman cerita, yang butuh teman curhat, tapi ternyata teman curhatnya bukan hanya curhat sekadar curhat kayak ke teman gitu, tapi ternyata curhatnya mereka jauh dari lebih daripada itu, yaitu butuh pendampingan tenaga profesional," ujar Ratih dalam di tayangan Metro Siang Metro TV, Rabu, 22 Juli 2026.

Program 'Ruang Aman' ini nantinya tidak hanya berfungsi sebagai tempat mendengarkan keluh kesah, tetapi juga akan menyediakan tenaga psikolog dan psikiater. Tujuannya agar setiap perempuan yang datang bisa mendapatkan cara untuk melepaskan beban emosional, sekaligus mendapatkan solusi yang tepat atas permasalahan mereka.
 



Menghapus stigma kesehatan mental

Senada dengan Ratih, dokter spesialis kedokteran jiwa, dr. Aminah Ahmad Alaydrus, menilai kehadiran Ruang Aman dapat menjadi jembatan bagi perempuan yang selama ini enggan ke klinik atau rumah sakit karena takut akan stigma gangguan jiwa.

"Karena biasanya kalau ke psikiater kadang udah terlalu lama udah parah. Sedangkan kalau ke Ruang Aman ini mudah diakses, paling nggak untuk venting dulu ya, untuk melepaskan emosi dulu, untuk menyampaikan sesuatu dulu, itu mungkin bisa membantu," kata dr. Aminah.

Ia menambahkan bahwa perempuan secara biologis mengalami banyak perubahan hormon, mulai dari pubertas, masa kehamilan, hingga pascamelahirkan, yang berdampak signifikan pada regulasi emosi. Oleh karena itu, kehadiran tenaga profesional yang netral dan tidak menghakimi (non-judgmental) menjadi faktor kunci keberhasilan program ini.

Dari aspirasi menjadi kebijakan publik

Selain memberikan dukungan psikologis, Ratih Singkarru menekankan bahwa program ini juga memiliki tujuan jangka panjang di ranah politik. Informasi dan curhatan yang masuk akan diserap sebagai aspirasi untuk menyusun kebijakan publik yang lebih pro-perempuan.

"Sebuah bentuk serap aspirasi yang di mana ke depannya siapa tahu kita bisa membuat kebijakan yang akhirnya pro dengan masalah-masalah mereka," tambah Ratih.

NasDem sendiri mengeklaim komitmen kuat terhadap keterwakilan perempuan, di mana saat ini persentase perempuan di Fraksi NasDem telah mencapai sekitar 30 persen. Selain GP NasDem, partai ini juga diperkuat oleh organisasi sayap Garnita Malahayati dan Rumah Perempuan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.

Program "Ruang Aman untuk Perempuan" ini diharapkan dapat segera diimplementasikan setelah seluruh rangkaian Kongres II Garda Pemuda NasDem selesai dilaksanakan, sebagai langkah awal memperkuat perlindungan dan inklusivitas bagi perempuan di Indonesia.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X