Fakta-Fakta Penangkapan Jurnalis dan Aktivis Indonesia oleh Militer Israel

20 May 2026 23:55

Kementerian Luar Negeri mengungkapkan seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla 2026 telah ditahan oleh pasukan militer Israel. Penangkapan ini terjadi dalam operasi penyergapan kapal-kapal bantuan kemanusiaan menuju Palestina yang dimulai sejak Senin, 18 Mei 2026.

Kronologi Penangkapan Kesembilan Aktivis Indonesia

Penangkapan sembilan WNI tersebut dilaporkan terjadi dalam tiga waktu berbeda di perairan internasional dekat Siprus. Pada Senin 18 Mei 2026, lima WNI ditangkap di atas tiga kapal berbeda, yakni Bolarize, Ozgurluk, dan Josef. 

Daftar WNI yang ditahan pada gelombang pertama meliputi:
  • Bambang Noroyono (Jurnalis Republika) di kapal Bolarize.
  • Andrea Pastio (Jurnalis Tempo), Thoudy Badai (Fotografer Republika), dan Rahendro Herubowo di kapal Ozgurluk.
  • Andi Angga (Aktivis kemanusiaan) di kapal Josef.
Selanjutnya, pada Selasa malam, dua relawan dari Dompet Dhuafa, yaitu Herman Budianto Sudarsono dan Ronggo Wirasanu, ditangkap saat berada di Kapal Zapyro. Dua WNI terakhir, Asad Aras Muhammad (Spirit of Aqso) dan Hendro Prasetyo (relawan Smart 171), ditangkap di atas kapal Kasr-1.

Lokasi dan Kondisi Terkini Aktivis

Aktivis kemanusiaan, Muhammad Husein, mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi dari tim pengacara Global Sumud Flotilla, para WNI saat ini berada di Ashdod, Israel. Meski lokasi sudah diketahui, akses untuk memantau kondisi kesehatan dan keselamatan mereka masih sangat terbatas karena pihak Israel belum memberikan izin akses penuh.

"Sejauh ini belum ada kabar pasti tentang bagaimana kondisi mereka, kesehatan mereka, kita terus menunggu dan memantau bagaimana kondisi mereka," jelas Husein.

Sebelum ditangkap, para aktivis sempat merekam pesan video yang menyatakan bahwa misi mereka adalah misi sipil tanpa kekerasan untuk menembus blokade ilegal di Gaza. Mereka memohon kepada Pemerintah Indonesia untuk membebaskan mereka sesuai hukum yang berlaku.

"Jika video ini ditonton, berarti saya telah diculik oleh tentara Zionis di perairan internasional," ujar salah satu relawan, Ronggo Wirasano, dalam pesannya.
 
Baca juga: Perjalanan Jurnalis Metro TV Ikuti Misi Global Sumud Flotilla ke Gaza

Respon Pemerintah Indonesia

Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menyatakan bahwa pemerintah terus memaksimalkan jalur diplomatik untuk memastikan perlindungan penuh bagi para WNI tersebut. Mengingat Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik langsung dengan Israel, komunikasi dilakukan melalui negara pihak ketiga.

"Kami sudah berkomunikasi dengan rekan-rekan dari Kementerian Luar Negeri Yordania dan Turki untuk memastikan kondisi rekan-rekan kita yang ditahan oleh Israel," ujar Menlu Sugiono.

Senada dengan hal tersebut, Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas, menegaskan bahwa negara hadir melindungi setiap WNI di mana pun mereka berada. Termasuk, melindungi mereka yang saat ini dalam penahanan Zionis Israel dan empat WNI yang jadi sandera perompak di Somalia.

"Percayalah bahwa negara pasti hadir bertanggung jawab atas keselamatan warga negara kita di luar negeri," jelas Menhum.

Kecaman dari Masyarakat Sipil

Aksi solidaritas merebak di sejumlah kota di Indonesia, termasuk Bandar Lampung dan Bandung, sebagai bentuk kecaman atas tindakan militer Israel. Massa menilai penangkapan jurnalis dan relawan ini merupakan pelanggaran berat hukum internasional karena dilakukan di wilayah perairan internasional terhadap misi kemanusiaan sipil.

Misi Global Sumud Flotilla sendiri bertujuan untuk membuka koridor bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza yang mengalami genosida dan kelaparan selama beberapa tahun terakhir. Para aktivis menegaskan bahwa fokus dunia tidak boleh teralihkan dari penderitaan warga Palestina di Gaza.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)