Prabowo Perintahkan Purbaya Pelajari Krisis 2008 untuk Jaga Stabilitas Ekonomi RI

23 May 2026 14:15

Presiden Prabowo Subianto meminta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mempelajari pengalaman Indonesia menghadapi krisis ekonomi pada tahun 2007-2008. Purbaya diminta menyiapkan langkah antisipasi menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan pasar global.

Arahan tersebut disampaikan usai rapat bersama sejumlah ekonom senior dan mantan pejabat ekonomi di Istana Negara, Jumat, 22 Mei 2026. Dalam pertemuan itu, pemerintah menerima berbagai masukan terkait strategi menghadapi gejolak ekonomi berdasarkan pengalaman krisis masa lalu.

Purbaya menjelaskan salah satu tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut ialah mantan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah. Para ekonom senior disebut membagikan pengalaman saat menghadapi krisis ekonomi global 2007-2008 maupun krisis sebelumnya.

"Berbagi pengetahuan gimana waktu mengalami krisis waktu ada krisis 2007-2008 dan sebelumnya-sebelumnya itu saja kita pelajari masukan dari mereka apa. Saya sudah catat, saya diperintahkan untuk mempelajari, kita pelajari," ujar Purbaya dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Sabtu 23 Mei 2026. 

Meski membahas potensi tekanan ekonomi, pemerintah menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih kuat dan stabil. 

“Fundamental ekonomi kita bagus sekali. Dan mereka juga bilang mungkin persepsi orang yang membuat ada tekanan nilai tukar,” ucapnya. 
Menurutnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar keuangan lebih dipengaruhi persepsi pelaku pasar, bukan karena lemahnya kondisi ekonomi domestik. Ia menyebut berbagai tekanan eksternal, mulai dari laporan lembaga internasional hingga sentimen pasar, turut memengaruhi kondisi tersebut.

Oeh karena itu, pemerintah akan memperkuat komunikasi publik mengenai capaian dan kondisi fundamental ekonomi nasional agar kepercayaan investor tetap terjaga.

Purbaya juga memastikan pemerintah saat ini hanya mempelajari pengalaman krisis masa lalu sebagai bahan evaluasi dan antisipasi, bukan karena ada tanda-tanda Indonesia menuju krisis seperti 1998.

“Kalau dibandingkan yang 98 kan dia waktu itu dari 2000 melemah ke sekian belas ribu kan sekian kali lipat. Kalau sekarang kan hampir 5 persen kan tentunya jauh,” kata Purbaya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Reno Panggalih Nuha Lathifah)