Magelang: Menjelang perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era, umat Buddha melaksanakan prosesi San Pu Yi Pai dan Pradaksina di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Prosesi ini dilakukan oleh 50 Sangha Mahayana dan para umat.
Prosesi ini diawali dengan tiga langkah sambil melafalkan paritta suci. Kemudian melakukan satu kali namaskara atau bersujud di sepanjang Marga Utama menuju Candi Borobudur.
Ketua Umum Majelis Mahayana Buddhis Indonesia atau Mahabudhi, Bhiksu Samantha Kusala Mahasthavira, mengatakan, San Pu Yi Pai memiliki makna filosofis.
Umat diajak untuk memfokuskan tiga unsur utama manusia dalam setiap gerakannya, yakni pikiran, ucapan, dan perbuatan. Ketiga hal ini harus manunggal atau menyatu sebagai bentuk penghormatan kepada Guru Agung Buddha.
Selain San Pu Yi Pai, umat Buddha juga menjalankan Pradaksina, yakni meditasi berjalan mengelilingi stupa utama Candi Borobudur. Melalui praktik meditasi langsung ini, bhiksu berharap umat tidak hanya merayakan Waisak secara seremonial, tapi juga mampu membentuk dan membina karakter diri yang lebih baik, penuh kesabaran, dan selalu terjaga dalam kesadaran penuh.
"Jadi ucapan, pikiran dan perbuatan ini harus manunggal. Makanya untuk hari ini, kami mengadakan tiga langkah namaskara satu kali sambil melafalkan pujian kepada guru agung kita Sakyamuni Buddha. Jadi tujuannya adalah selain untuk membersihkan pikiran dan juga batin ini dari segala jenis kekotoran, juga merupakan salah satu metode melaksanakan meditasi dalam bentuk bergerak seperti itu," kata Bhiksu Samantha Kusala Mahasthavira, dalam program Metro Siang Metro TV, Kamis, 28 Mei 2026.
Usai prosesi San Pu Yi Pai dan Pradaksina, umat Buddha dijadwalkan akan mengikuti penerimaan api dharma yang berasal dari Mrapen, Grobogan, dan air suci yang berasal dari Umbul Jumprit, Temanggung, Jawa Tengah. Keduanya akan dibawa dan disakralkan di Candi Mendut.