Kisah Relawan Bertaruh Nyawa Padamkan Karhutla Bromo

11 August 2026 12:14

Ratusan relawan berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, selama sepekan terakhir. Panas ekstrem, kepulan asap, medan berat, hingga perubahan arah angin menjadi tantangan yang harus dihadapi para penjaga garis api.

Asap masih membumbung di kawasan Bromo. Savana yang menghitam dan lautan pasir yang panas menjadi medan perjuangan para relawan untuk mencari dan memadamkan titik-titik api yang masih menyala.

Di antara para relawan terdapat Danang Purwanto, inspektur inspeksi pemadam kebakaran Kabupaten Probolinggo. Sejak api muncul di savana Bromo, Danang memilih berada di garis depan bersama relawan lainnya.

Mereka menyisir titik api yang sulit dijangkau menggunakan peralatan sederhana seperti gebyok dan water sprayer. Keterbatasan peralatan menjadi tantangan tersendiri. Bahkan, panas ekstrem membuat sejumlah peralatan rusak. Gebyok berbahan besi dan karet disebut sempat meleleh akibat tidak mampu menahan panas.

"Tenaga memang harus dipersiapkan, kemudian untuk alat kita kan cuma bisa pakai alat sederhana, gebyok gitu. Peralatannya terbatas," ujar Danang dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Selasa 11 Agustus 2026.

Dalam kondisi tertentu, para relawan bahkan memanfaatkan ranting kayu di sekitar lokasi sebagai alat pemukul api sederhana. Namun, ancaman terbesar bukan hanya panas. Perubahan arah angin dapat membuat kobaran api tiba-tiba berbalik dan mengejar posisi petugas dalam hitungan detik. Danang harus membaca pergerakan api dan angin untuk menentukan kapan harus mendekat dan kapan harus mundur demi keselamatan.

"Kita waktu menghadapi api ya kita harus siap untuk menghindari lah agar petugas itu selamat lebih dulu," kata Danang.

Medan Bromo yang berat juga memperlambat proses pemadaman. Kendaraan operasional yang membawa peralatan kerap terjebak di pasir yang dalam. Para relawan pun harus turun dan mendorong kendaraan bersama-sama. Meski menghadapi risiko tinggi, Danang mengaku tidak terpikir untuk menyerah. Ia bersama para relawan tetap berupaya agar api segera padam dan tidak merembet ke kawasan lainnya.

"Malam itu api yang paling besar di Damai. Sangat besar dan juga perambatannya juga cepat karena embusan anginnya lumayan kencang juga," ungkapnya.

Di balik perjuangan para penjaga garis api, terdapat keluarga yang setiap hari menanti dengan rasa cemas. Namun bagi Danang, menjaga Bromo bukan sekadar menjalankan tugas. Kawasan tersebut merupakan rumah bagi ekosistem sekaligus sumber penghidupan masyarakat Tengger.

Danang dan para relawan masih terus berjibaku memastikan api tidak kembali menjalar. Mereka berharap asap segera menghilang, aktivitas masyarakat dan pelaku wisata kembali normal, serta savana Bromo dapat kembali menghijau.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X