Daftar Mata Uang Terendah, Rupiah Salah Satunya-Edukasi Ekonomi

Ade Hapsari Lestarini • 20 January 2026 18:44

Jakarta: Pernah terpikir bagaimana uang di suatu negara bisa terlihat banyak, tetapi nilainya justru sangat kecil? Bahkan, untuk belanja kebutuhan harian saja harus membawa setumpuk uang tunai. 

Kondisi inilah yang terjadi di sejumlah negara dengan nilai mata uang yang sangat rendah.

Forbes baru-baru ini merilis daftar 10 mata uang terlemah di dunia tahun 2026. Dalam daftar tersebut, Rupiah Indonesia masih masuk lima besar, meski dengan sejumlah catatan penting.
 

 

Daftar Mata Uang Terlemah Dunia 2026

Berikut mata uang yang masuk kategori terlemah berdasarkan nilai tukarnya terhadap dolar Amerika Serikat:

1. Pound Lebanon

Pound Lebanon menempati posisi teratas sebagai mata uang terlemah. Nilainya anjlok hingga hampir 90 ribu Pound untuk 1 dolar AS. Kondisi ini membuat warga harus membawa uang dalam jumlah besar hanya untuk transaksi sederhana.

2. Rial Iran

Mata uang Iran terus tertekan akibat sanksi internasional dan inflasi tinggi. Nilai satu Rial bahkan disebut lebih kecil dari uang pecahan terkecil di banyak negara.

3. Dong Vietnam

Meski tergolong lemah, Dong Vietnam justru mencerminkan strategi ekonomi. Nilai tukar yang rendah membuat harga ekspor Vietnam lebih murah dan kompetitif di pasar global.

4. Kip Laos

Pelemahan Kip Laos dipengaruhi tekanan utang luar negeri serta keterbatasan kapasitas ekonomi domestik.

5. Rupiah Indonesia

Rupiah sempat berada di kisaran Rp16.800 per dolar AS pada awal 2026. Namun, analis menilai kondisi ini lebih disebabkan oleh faktor denominasi, yakni besarnya satuan mata uang, bukan semata-mata karena melemahnya daya beli masyarakat.

Setelah itu ada Uzbekistan, Guinea, Burundi, Paraguay, dan terakhir Madagaskar, yang ekonominya masih sangat bergantung ke komoditas mentah.
   

Mata Uang Lemah Tak Selalu Tanda Krisis

Forbes menekankan bahwa nilai tukar yang rendah tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi yang buruk. Faktor lain seperti daya beli, stabilitas ekonomi, tingkat inflasi, dan lapangan kerja justru menjadi indikator yang lebih relevan.

Dengan kata lain, mata uang lemah bukan berarti negara miskin, dan mata uang kuat juga tidak selalu menandakan ekonomi sehat. Yang terpenting adalah bagaimana kebijakan ekonomi menjaga kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com. 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Zein Zahiratul Fauziyyah)