Ikram Afdal Teguh Kejar Mimpi Hafiz Quran di Tengah Ujian Bencana

26 February 2026 18:07

Sejak masih berada dalam kandungan, sosoknya telah dicita-citakan oleh sang ayah untuk menjadi seorang hafiz atau penghafal Al-Qur'an. Ia bahkan diberi nama yang sarat akan makna, yakni sebagai pembawa cahaya bagi keluarganya.

Dialah Ikram Afdal, seorang siswa kelas 3 Madrasah Tsanawiyah di SMPTQ An-Naajiya, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Kisah hidup Ikram menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan dan ujian hidup bukanlah penghalang untuk merajut asa dan meraih cita-cita mulia.

Keteguhan hati Ikram sempat diuji dengan duka yang menghantam tanah kelahirannya pada November 2025 lalu. Saat itu, kampung halamannya di Palembayan, Kabupaten Agam, diterjang musibah banjir bandang.

Mendengar kabar tersebut dari sekolahnya, remaja ini hanya bisa pasrah. Benaknya dipenuhi kekhawatiran memikirkan kondisi sang ibu yang selama ini menjadi pintu surga dan sumber kekuatannya. Akses komunikasi dan transportasi yang terputus membuat Ikram semakin gelisah karena tidak bisa memastikan keselamatan keluarganya.

"Ada kepala sekolah yang mengabari ketika di sekolah. Beliau bilang kampung saya kena musibah. Lalu dilihat kan masjidnya yang kena. Ingat rasanya di situ, saya baru minta izin menelepon orang tua, tetapi jaringan terputus. Saya kepikiran bagaimana kondisi orang tua di rumah. Tetap di sini tidak bisa pulang, tante di Pasaman pun berusaha pulang tapi katanya jalan terputus," kenang Ikram.
 

Baca juga:
Broken Home Jadi Motivasi: Kisah Qeis, Hafiz Muda dari Bogor

Yatim Sejak Usia Sembilan Tahun

Ikram telah menyandang status yatim sejak usianya baru menginjak sembilan tahun. Sepeninggal mendiang ayahnya, sang ibu berjuang sebagai tulang punggung keluarga dengan membuka usaha warung kelontong kecil-kecilan.

Meski hidup dalam kesederhanaan, impian mendiang ayahnya agar Ikram menjadi penjaga kalam ilahi tidak pernah padam. Beruntungnya, semangat juang Ikram sejalan dengan prestasinya di sekolah, sehingga ia mendapatkan keringanan biaya pendidikan untuk terus menimba ilmu agama.

Cita-cita Menuju Madinah

Kecerdasan dan bakat alamiah Ikram membentuknya menjadi pribadi yang berpegang teguh pada nilai-nilai agama. Hal ini pun diakui secara langsung oleh tenaga pendidik di sekolahnya.

Kepala Sekolah SMPTQ An-Naajiya Pasaman Barat, Fajar Mario, mengungkapkan rasa bangganya terhadap potensi besar yang dimiliki oleh anak didiknya tersebut. Ia berharap jalan Ikram untuk menuntut ilmu semakin dimudahkan.

"Saya melihat bahwasanya Ikram ini memang anak yang berbakat, anak yang menonjol daripada anak-anak seumuran dia. Dia punya kecondongan terhadap agama. Jadi, saya harapkan anak kita ini bisa melanjutkan cita-citanya. Anak ini benar-benar ingin melanjutkan sekolahnya di Universitas Islam Madinah," ungkap Fajar.

Semangat, ketekunan, dan bakti kepada orang tua kini menjadi kekuatan utama Ikram dalam menapaki jalan terjal menuju impiannya. Kisah hidupnya menjadi inspirasi berharga bahwa keteguhan iman dan rida orang tua adalah kunci utama dalam menembus batas keterbatasan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Sofia Zakiah)