3 Bulan Dikepung Asap Karhutla, Kualitas Udara Palangka Raya Masih Berbahaya

17 October 2026 12:54

Palangka Raya: Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, meski hujan sempat turun dalam beberapa hari terakhir. Setelah berlangsung lebih dari tiga bulan, kualitas udara di wilayah tersebut masih berada dalam kategori berbahaya.

Kepekatan kabut asap di Palangka Raya mulai berkurang setelah hujan dengan intensitas sedang turun dua hari sebelumnya. Namun, hujan yang berlangsung dalam waktu singkat itu belum mampu menghilangkan kabut asap sepenuhnya.

“Namun pengurangan kepekatan dari kabut asap itu masih belum mengubah status dari udara yang dalam taraf berbahaya,” ujar Jurnalis Metro TV Joy Jones dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Sabtu 17 Oktober 2026.

Joy menjelaskan, kondisi kabut asap sebelumnya sempat memburuk hingga membuat langit Palangka Raya tampak menguning. Meski kondisi tersebut mulai berkurang, kualitas udara di kota itu masih berada dalam kategori berbahaya.

“Karena saking parahnya kemarin, sehingga langit sampai menguning. Namun pada hari ini pun, meskipun sudah sedikit menurun, namun masih dalam kategori berbahaya,” kata Joy.

Menurut Joy, hujan yang turun belum cukup untuk menghentikan kebakaran hutan dan menghilangkan dampak asap yang ditimbulkan.

“Karena hujan yang terjadi kemarin tidak mampu untuk membuat kebakaran hutan hilang 100 persen di Kota Palangka Raya,” ujarnya.

Joy menyebut siklus kabut asap yang berkurang setelah hujan dan kembali pekat ketika tidak ada hujan telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan, bahkan mendekati empat bulan.

“Namun jika tidak adanya hujan lagi, maka fenomena kabut asap yang pekat hingga menguning akan kembali terjadi. Oleh karena itu, masih bisa dikatakan bahwa masalah kabut asap di Kota Palangka Raya belum beres 100 persen,” kata Joy, mengutip hasil wawancaranya dengan warga.

Selain faktor cuaca, banyaknya titik api turut memperburuk kondisi kabut asap. Joy melaporkan, jumlah titik api di Kota Palangka Raya telah mencapai lebih dari 100 titik. Sementara itu, di tingkat Provinsi Kalimantan Tengah, jumlah titik api tercatat mencapai 2.775 titik.

“Sehingga titik-titik api inilah yang kembali mengeluarkan asap menutupi Kota Palangka Raya,” ujar Joy.

Kabut asap juga memengaruhi aktivitas masyarakat. Joy mengatakan, sebagian warga sebenarnya ingin mengurangi kegiatan di luar rumah untuk menghindari paparan asap. Namun, kondisi ekonomi membuat mereka tetap harus bekerja.

“Jika kita berbicara apakah mereka ingin saja di rumah dan tidak beraktivitas di luar, sebenarnya mereka juga ingin menggunakan opsi itu, namun karena himpitan ekonomi dan juga kewajiban mereka untuk bekerja, mereka harus keluar,” ungkapnya.

Joy juga menyoroti kondisi tempat tinggal warga yang tidak semuanya mampu melindungi penghuni dari paparan asap. Tidak semua rumah dilengkapi pendingin udara, sementara sejumlah rumah kayu tidak dapat menghalangi asap masuk ke dalam ruangan.

“Ada juga rumah-rumah kayu yang jika kabut asap pekat, tidak ada bedanya di rumah atau di luar rumah,” tutur Joy.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X