Memperingati Hari Jadi ke-357 pada 19 Oktober 2026, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) terus memperkuat komitmennya sebagai pilar kemandirian ekonomi dan lumbung pangan nasional.
Di sektor hilir, kemeriahan perayaan ini diwujudkan lewat kehadiran pasar murah guna menjaga stabilitas daya beli masyarakat, serta pameran UMKM yang menjadi panggung bagi produk lokal agar kian berdaya saing. Namun, semangat pertumbuhan ini sejatinya berakar dari sektor hulu, yakni hamparan lahan pertanian rakyat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras Sulsel sepanjang tahun 2025 menembus angka 3,14 juta ton, atau melonjak 13,45 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian impresif ini kian mengukuhkan posisi Sulawesi Selatan sebagai penyangga utama ketahanan pangan nasional.
Untuk menjamin keberlanjutan swasembada pangan di tengah tantangan penurunan fungsi jaringan pengairan, Gubernur Andi Sudirman Sulaiman mendorong proyek rehabilitasi irigasi
multi-years project periode 2025–2027. Dengan total alokasi anggaran mencapai Rp780 miliar, Pemprov Sulsel menargetkan pemulihan 39 daerah irigasi yang tersebar di 16 kabupaten guna melayani dan mengairi sekitar 54.000 hektare sawah.
Secara spesifik, penguatan infrastruktur pengairan ini juga mencakup alokasi Paket 1 yang difokuskan di wilayah Kabupaten Gowa, Maros, Bulukumba, dan Sinjai. Rehabilitasi jaringan irigasi terpadu pada paket tersebut mendapat dukungan anggaran sekitar Rp93 miliar demi memastikan pasokan air menjangkau lahan-lahan kritis.
Langkah strategis ini menjadi tolok ukur kemajuan daerah yang manfaatnya berdampak langsung bagi keseharian warga. Pembangunan infrastruktur irigasi di usia yang baru ini bukan sekadar membenahi saluran air, melainkan investasi jangka panjang untuk memperkuat fondasi kemandirian pangan, memberdayakan petani, dan menggerakkan ekonomi keluarga menuju masa depan yang lebih sejahtera.