Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 melakukan terobosan besar dengan mengintegrasikan layanan katering jemaah secara digital. Langkah ini diambil untuk memastikan distribusi makanan bagi ratusan ribu jemaah berjalan presisi, transparan, dan terpantau secara real-time.
Jurnalis Media Indonesia, Akmal Fauzi, melaporkan langsung dari kawasan Shisha, Makkah, bahwa sistem digital ini mencakup seluruh rantai pasok mulai dari pencatatan distribusi di dapur, pemantauan jumlah porsi di lapangan, hingga verifikasi akhir layanan di hotel jemaah.
Skala penyediaan konsumsi tahun ini tergolong masif. PPIH mengelola distribusi dari 51 dapur penyedia yang bertanggung jawab menyuplai makanan ke 177 hotel yang tersebar di Kota Makkah. Total terdapat 527 kelompok terbang (kloter) yang menjadi sasaran layanan katering terintegrasi ini.
Selain aspek distribusi, pemerintah juga menjamin keseimbangan gizi dalam setiap menu yang disajikan. Hal ini krusial untuk menjaga kondisi fisik jemaah agar tetap prima, terutama menjelang fase puncak haji.
Rincian Konsumsi Fase Puncak Haji
Guna memastikan stamina jemaah tetap terjaga selama menjalani prosesi inti di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), PPIH telah menetapkan skema layanan konsumsi sebagai berikut:
- Saat Tiba di Arafah: Jemaah akan menerima 3 botol minuman pembuka atau minuman selamat datang.
- Fase Wukuf (8-9 Dzulhijjah): Jemaah mendapatkan jatah 5 kali makanan lengkap yang terdiri dari nasi, lauk, sayur, dan buah.
- Di Muzdalifah: Pendistribusian konsumsi tambahan akan dilakukan sebelum jemaah bergeser menuju Mina.
- Fase di Mina (10-13 Dzulhijjah): Jemaah kembali menerima layanan makanan lengkap sebanyak 10 kali selama masa mabit.
Mengingat puncak ibadah haji akan dilaksanakan pada akhir Mei mendatang, jemaah diimbau untuk terus menjaga kesehatan, mencukupi kebutuhan cairan, dan mengikuti instruksi petugas selama berada di Makkah maupun Madinah.