21 April 2026 23:20
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara tegas menyatakan penolakannya terhadap tawaran pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam kunjungannya ke Washington DC, Amerika Serikat, pekan lalu.
Langkah ini diambil karena kondisi fiskal Indonesia dinilai masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan global tanpa perlu menambah beban utang baru.
Bantalan APBN Capai Rp420 Triliun
Di tengah ketidakpastian ekonomi akibat konflik global, IMF dan Bank Dunia menawarkan pinjaman senilai USD20 hingga USD30 miliar untuk mengamankan fiskal Indonesia. Namun, Purbaya menegaskan bahwa bantalan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini masih sangat memadai.
"Saya sampaikan terima kasih atas tawarannya, tetapi kondisi APBN kita masih bagus dan saya belum butuh itu," ujar Purbaya.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah saat ini memegang Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang mencapai Rp420 triliun atau setara dengan USD25 miliar. Angka ini dianggap lebih dari cukup untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional secara mandiri.
"Kita memiliki USD25 miliar sendiri untuk negara kita. Mereka menawarkan angka yang sama untuk dibagi ke puluhan negara, sementara kita memilikinya sendiri. Jadi kondisi keuangan kita masih sangat aman," tambahnya.
Kebijakan Fiskal yang Hati-Hati
Purbaya juga menceritakan momen unik saat dirinya menyampaikan penolakan tersebut. Menurutnya, ekspresi pimpinan kedua lembaga internasional itu langsung berubah setelah mendengar sikap Indonesia. Ia menduga hal itu dikarenakan mereka kehilangan potensi pendapatan dari bunga utang yang ditawarkan.
Ia menekankan bahwa kebijakan fiskal pemerintah saat ini dirancang dengan prinsip kehati-hatian. Pemerintah terus mempertimbangkan berbagai skenario, baik dalam menghadapi tekanan ekonomi maupun saat mengoptimalkan peluang yang ada.
"Intinya, pengelolaan keuangan negara dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan risiko global yang dinamis," ucapnya..