Masih ingat adegan ikonik dalam film Crazy Rich Asians saat karakter Rachel Chu dan Eleanor Young beradu argumen di meja mahjong? Suasana tegang berbalut strategi susun ubin tersebut menunjukkan bahwa mahjong bukan sekadar permainan ketangkasan, melainkan sarana membaca karakter, membangun relasi, sekaligus merangkai strategi diplomasi.
Kini, gaung permainan tradisional asal Tiongkok tersebut tengah menjadi tren gaya hidup (hype) baru di kalangan anak muda dan kaum urban Jakarta. Bukan lagi sekadar ajang nostalgia atau hiburan santai, mahjong bertransformasi menjadi ruang komunitas yang cair hingga melahirkan rantai ekonomi kreatif yang menjanjikan.
Menyulap Showroom Jadi Ruang Komunal
Salah satu potret berkembangnya tren ini terlihat di gerai desain interior Interni Asia. Sang pemilik, Arafina, berinisiatif mengubah sudut showroom-nya menjadi arena bermain mahjong. Langkah ini tak hanya menarik pengunjung untuk melihat-lihat produk furnitur, tetapi juga memberi mereka alasan untuk betah berlama-lama dan berinteraksi.
Antusiasme yang tinggi tersebut kemudian melahirkan kolaborasi bisnis. Interni Asia menggandeng jenama lokal Ggoodies untuk memproduksi paket perlengkapan mahjong yang modis, mulai dari tas pembawa (bag), kantong ubin (pouch), hingga alas meja (mat).
"Jadi, anywhere you can bring your mahjong bag set, you can play anywhere," kata Arafina, dikutip dari tayangan Metro Community, Metro TV, Minggu, 25 Oktober 2026.
Koleksi aksesoris yang dihadirkan dengan ragam motif, seperti pastel pink and sage, garis Riviera, sentuhan floral, hingga motif leopard—bahkan langsung ludes terjual di pasaran. "Semuanya sudah sold out, dan sekarang sistemnya pre-order," imbuhnya.
Sentuhan visual yang estetis diakui menjadi kunci sukses produk ini di media sosial. Nevrina Zagita dan Gita Yosika, pemilik Ggoodies, mengungkapkan bahwa daya tarik visual memikat audiens yang lebih luas.
"Pas difoto cantik, orang jadi mikir 'Aduh ini lucu banget'. Desainnya cocok dengan target pasar kami. Bahkan orang yang awalnya enggak main mahjong pun jadi tergiur untuk membeli produknya," kata perwakilan Ggoodies.
'Cuan' dari Keterampilan dan Mengajar
Peluang ekonomi mahjong tak berhenti pada penjualan produk fisik. Bagi pegiat mahjong seperti Yasmin Alvina, kepiawaian memainkan ubin ini membuka pintu rezeki baru sebagai instruktur.
Bermula dari permintaan kawan-kawan sekitar yang penasaran ingin mempelajari aturan mainnya yang kompleks, Yasmin kini rutin membuka kelas privat maupun sesi pengajaran di berbagai acara.
"Awalnya cuma buat seru-seruan, mengajari teman. Tapi kemudian ada teman yang memberi ide, 'Kenapa enggak lu cuanin aja? Mumpung lagi tren.' Akhirnya sejak Agustus sampai sekarang, setiap minggu selalu ada panggilan untuk mengajar mahjong, baik privat ke rumah maupun di acara-acara," tutur Yasmin.
Sinergi Menghidupkan Ruang Bisnis
Bagi pelaku usaha F&B dan ruang gaya hidup (lifestyle space), komunitas mahjong menjadi angin segar untuk mendongkrak lalu lintas pengunjung (foot traffic). Pegiat mahjong lainnya, Damar, memandang kolaborasi antara komunitas dan tempat usaha sebagai simbiosis mutualisme yang adaptif dalam membaca tren konsumen.
Damar membandingkan dinamika ini dengan tren
olahraga padel yang sempat meroket pesat hingga mengalami titik jenuh (oversupply). Kehadiran mahjong menjadi alternatif segar bagi para pemilik tempat usaha untuk memutar strategi.
"Selama itu halal untuk menggaet pasar dan bertahan, kenapa tidak? Memang terkadang tempatnya terasa tidak nyambung dengan mahjong, tapi ternyata somehow it works. Komunitas kami sering mendapat undangan untuk meramaikan tempat-tempat tertentu," jelas Damar.
Fenomena menjamurnya mahjong di ibu kota membuktikan bahwa sebuah hobi sederhana dapat menjelma menjadi ekosistem yang bernilai
ekonomi tinggi. Kuncinya terletak pada kejelian melihat peluang kolaborasi: menyatukan jejaring pertemanan, estetika desain, serta kebutuhan ruang komunal agar sebuah tren tidak lekas redup, melainkan terus berputar menjadi roda ekonomi baru.