Jakarta: Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang beragam, termasuk satwa endemik dengan ciri khas unik. Salah satunya adalah bekantan (Nasalis larvatus), primata yang berasal dari Kalimantan dan dikenal karena bentuk hidungnya yang panjang dan besar.
Selain hidungnya yang khas, bekantan juga memiliki perut buncit. Kondisi ini berkaitan dengan sistem pencernaannya yang menyesuaikan diri dengan makanan berserat, seperti dedaunan, selain buah-buahan dan biji-bijian.
Bekantan umumnya hidup di kawasan lahan basah, seperti hutan mangrove, hutan riparian di sepanjang sungai, serta hutan rawa air tawar dan rawa gambut. Satwa ini banyak ditemukan di sekitar muara dan tepian sungai di Kalimantan. Masyarakat setempat juga mengenalnya dengan berbagai sebutan, seperti kera Belanda dan kahau.
Sebagai satwa arboreal, bekantan menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pohon. Mereka berpindah dari satu dahan ke dahan lain dengan melompat, bergantung, atau berjalan menggunakan keempat anggota tubuhnya.
Bekantan juga dikenal sebagai perenang ulung. Selaput kulit di antara jari-jari tangan dan kakinya membantu primata ini berenang dan menyeberangi sungai. Primata ini termasuk satwa diurnal yang aktif sejak pagi hingga sore hari. Menjelang malam, mereka biasanya mencari pohon di sekitar tepian sungai untuk beristirahat. Anggota kelompoknya dapat tidur di pohon yang sama atau di pohon-pohon yang berdekatan. (Titik Nurmalasari)