18 December 2022 20:42
Ketua Asosiasi Poligraf Indonesia Agung Prasetya mengatakan, akurasi alat tes kebohongan atau poligraf dalam sidang lanjutan pembunuhan berencana Brigadir Yosua mencapai 93%. Ia menyebut, nilai tersebut didapatkan dari hasil penelitian dari berbagai kalangan, dimana hasil penelitian itu juga nanti akan diuji oleh kalangan lain.
"Untuk metode yang dilakukan oleh Labfor yaitu menggunakan metode Utah ZCT itu diklaim oleh asosiasi poligraf Amerika dan beberapa kalangan peneliti (akurasinya) 93%," jelas Agung.
Agung mengungkapkan tes awal juga bertujuan untuk melihat pola reaksi seseorang yang akan diperiksa. Ia juga mengatakan seseorang yang akan melakukan tes poligraf baik jujur ataupun bohong itu dalam keadaan mental yang sama. Namun, seseorang yang berniat berbohong dalam pemeriksaan akan telihat lebih gugup.
Uji poligraf sendiri tak lain merupakan salah satu mekanisme yang dilakukan untuk proses penyidikan, guna mendeteksi indikasi kebohongan dari para terdakwa.