21 October 2022 11:25
Data Kementrian Kesehatan per 18 Oktober 2022 jumlah penderita gangguan ginjal akut misterius mencapai 206 kasus yang tersebar di 20 provinsi di Indonesia. 99% pasien meninggal dunia akibat terkontaminasi kandungan zat kimia berbahaya di dalam Etilen Glikol.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Mohammad Syahril mengatakan saat ini Kemenkes sedang melakukan penelitian dan mencari tahu apa sebenarnya penyakit gagal ginjal akut tersebut. Penyebab gagal ginjal diduga salah satunya yakni keracunan dari makanan, minuman atau obat-obatan.
Menurut Syahril, jumlah kasus gangguan gagal ginjal ini meningkat bahkan angka kematian dalam kasus ini juga meningkat sebanyak 115 pasien atau 55%. Kemenkes melakukan langkah cepat yakni menghentikan sementara penggunaan obat-obat sirup untuk anak.
"Untuk langkah cepatnya, kita adalah satu, menghentikan sementara penggunaan obat-obat sirup untuk anak. Menghentikan sementara dan sambil Kementerian Kesehatan dengan berbagai pihak untuk melakukan penelitian bersama untuk mengkaji apa sih penyebabnya yang betul-betul menjadi kematian bagi anak-anak" ujar Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Mohammad Syahril dalam Program Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Jumat (21/10/2022).
Obat-obatan sirup yang dihentikan penggunaannya yakni obat yang mengandung etilen glikol dan dietilen glikol karena berada di atas batas aman. Syahril mengatakan sejak Januari hingga Juli 2022 kasus gagal ginjal ini belum tinggi hanya satu hingga dua orang pada anak.
"Tapi begitu Agustus hingga Oktober 2022 kasus ini meningkat tajam hingga menyebabkan banyak anak yang meninggal hingga 55% saat ini. Untuk itulah kita mengkaji salah satunya adalah dugaan kandungan etilen glikol dan dietilen glikol dimana zat kimia ini adalah zat berbahaya apalahgi kalau tidak di ambang batas" jelas Syahril.
Sehingga dengan membatasi larangan penggunaanya, Kemenkes akan mengurangi risiko terjadinya penambahan kasus. Namun untuk yang sudah terkena gejala kasus tersebut, Kemenkes juga melakukan berbagai tindakan salah satunya dengan hemodialisa atau cuci darah dan penggunaan obat penawar racun.