Bencana maut melanda Ibu Kota Guinea, Conakry, setelah timbunan sampah raksasa mengalami longsor di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Dar Es Salam pada Minggu, 23 Agustus 2026 dini hari waktu setempat. Longsor di lokasi pembuangan sampah terbesar di kota tersebut dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 30 orang.
Dikutip dari Headline News Metro TV, Senin 24 Agustus 2026, berdasarkan keterangan pihak otoritas setempat, petaka ini dipicu oleh cuaca ekstrem berupa hujan deras yang mulai mengguyur kawasan tersebut beberapa jam setelah tengah malam. Debit air hujan yang tinggi menggenang dan terus menggerus gunungan sampah di TPA Dar Es Salam hingga akhirnya memicu longsoran berskala besar.
Situasi di lapangan diperparah oleh kepanikan dan rasa ingin tahu warga. Sejumlah saksi mata menyebutkan bahwa banyak warga sekitar yang justru berdatangan mendekati lokasi kejadian sesaat setelah
longsor pertama terjadi. Namun tak disangka, sisa timbunan sampah yang labil kembali longsor beberapa kali dan langsung menimpa kerumunan warga yang berada di area tersebut.
Pasca-kejadian, tim gabungan langsung menggelar operasi pencarian dan penyelamatan darurat untuk mengevakuasi korban yang masih mungkin selamat dari balik timbunan sampah. Selain puluhan korban jiwa, enam orang dilaporkan mengalami luka serius dan harus mendapatkan perawatan medis. Bencana longsor ini juga menyapu bersih sejumlah rumah warga yang berdiri di sekitar lokasi TPA.
TPA Dar Es Salam telah dijadwalkan untuk ditutup operasionalnya tepat pada hari Minggu tersebut. Pemerintah daerah sebelumnya juga telah melayangkan surat pengosongan kawasan kepada warga yang bermukim di sekitar lokasi pembuangan. Walaupun sebagian warga telah dipindahkan dan mematuhi imbauan tersebut, masih banyak warga yang nekat bertahan di area rawan bencana itu hingga akhirnya longsor maut terjadi.