Kuartal II-2026, Ekonom Ingatkan Potensi Daya Beli Melandai hingga Tekanan Geopolitik

6 May 2026 14:11

Jakarta: Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan. Meski angka ini merupakan capaian tertinggi sejak pandemi COVID-19 dan melampaui rata-rata negara G20, Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede mulai mengkhawatirkan keberlanjutan daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah yang dinilai paling rentan terhadap tekanan ekonomi mendatang.

"Ini pun juga nantinya akan mempengaruhi juga dari sisi bagaimana daya beli masyarakat kelas menengah. Kalau kita lihat dalam beberapa tahun terakhir ini jumlahnya menurun dan banyak turun kelas kepada kelompok vulnerable," ujar Josua dalam tayangan Zona Bisnis Metro TV, Rabu 6 Mei 2026.

Josua menilai kelompok vulnerable adalah yang paling rentan karena tidak mendapatkan dukungan bantuan sosial (bansos) seperti kelompok ekonomi bawah, namun harus menghadapi tekanan kenaikan harga energi BBM nonsubsidi, elpiji 12 kg, serta penguatan dolar AS. Fenomena turun kelas dari kelompok menengah ke kelompok rentan menjadi ancaman nyata yang dapat mengganggu daya beli nasional ke depan.

"Kalau kita bicara dalam hal ini masyarakat berpenghasilan menengah, ini tentunya kelompok masyarakat yang paling ataupun cenderung tidak diuntungkan ya dengan kondisi global dan juga tekanan struktural domestik yang masih kita hadapi," katanya. 

Lebih lanjut, Josua menjelaskan tingginya pertumbuhan di Kuartal I-2026 sangat dipengaruhi oleh faktor musiman, di mana momentum Ramadan dan Lebaran juga jatuh pada periode tersebut. Tanpa ada momentum tersebut ada potensi konsumsi rumah tangga cenderung melandai pada kuartal II tahun ini.

"Yang perlu kita ketahui adalah kondisi momentum Ramadan dan Lebaran tahun ini masuk dalam satu kuartal, yakni di kuartal I, yang berbeda di tahun lalu ini terbagi ya, Ramadannya masuk di kuartal 1 sementara itu Lebarannya masuk di kuartal kedua," ujar Josua. 

Selain faktor musiman, pertumbuhan ini juga didorong secara signifikan oleh belanja pemerintah yang melonjak lebih dari 21 persen melalui program-program prioritas, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). 
 

Risiko geopolitik

Menghadapi Kuartal II hingga akhir 2026, ekonomi Indonesia dihadapkan pada tantangan risiko geopolitik yang memicu kenaikan harga minyak mentah dan pelemahan nilai tukar rupiah. Hal ini berpotensi membebani APBN melalui tambahan subsidi energi, sehingga pemerintah kemungkinan akan melakukan rasionalisasi atau pemangkasan anggaran pada program-program prioritas secara terukur untuk menjaga disiplin fiskal.

Di sisi lain, terdapat tantangan ketimpangan penyerapan anggaran. Pada saat belanja pemerintah pusat tumbuh impresif, transfer ke daerah justru terkontraksi 1,1 persen. Oleh karena itu, Josua menekankan pentingnya inisiatif pemerintah daerah untuk tidak hanya bergantung pada dana pusat, tetapi juga menciptakan iklim yang ramah investasi

"Jadi pemerintah daerah pun juga tidak hanya mengandalkan dari sisi belanja ataupun program-program pemerintah pusat saja, tapi juga bagaimana berinisiatif  mempromosikan potensi-potensi ekonomi di daerah untuk bisa menarik investasi," ucap Josua.

Investasi swasta diharapkan menjadi jalan tengah untuk menggerakkan industri dan menyerap tenaga kerja, sehingga pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat dan berkelanjutan hingga akhir tahun.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Reno Panggalih Nuha Lathifah)