9 March 2026 21:30
Menghadapi tantangan global yang kian berat, masyarakat diingatkan kembali pada pentingnya ketangguhan mental melalui kearifan lokal Nusantara. Falsafah suku Banjar dari Kalimantan Selatan, "dalas hangit, haram menyarah, waja sampai kaputing", menjadi salah satu prinsip hidup yang sangat relevan untuk memperkuat karakter bangsa, khususnya generasi muda.
Gubernur Kalimantan Selatan, Muhyiddin, menjelaskan bahwa falsafah ini bermakna: meskipun harus hangus terbakar, pantang bagi seseorang untuk menyerah. Tekad harus kuat layaknya besi baja, dari pangkal hingga ke ujung. "Ungkapan ini lahir dari semangat Pangeran Antasari yang mengajarkan tekad kuat, niat lurus, dan keberanian melangkah meski dalam keadaan sulit," kata Gubernur Muhyiddin.
Senada dengan hal tersebut, Din Syamsuddin menekankan bahwa prinsip ini sangat sejalan dengan ajaran Islam yang melarang umatnya berputus asa dari rahmat Allah SWT. Menuntaskan pekerjaan hingga akhir dengan hasil terbaik merupakan bentuk integritas seorang mukmin. Semangat ini juga diakui secara universal, sebagaimana disampaikan pelatih basket profesional Jamar Johnson, yang menyebut bahwa hambatan adalah satu-satunya jalan menuju kesuksesan.
Untuk menerapkan prinsip ini secara praktis, seseorang perlu memulai dengan niat yang membaja, menyusun peta jalan yang jelas, dan melakukan langkah nyata secara konsisten. Melalui semangat "Waja Sampai Kaputing", setiap individu ditantang untuk tidak sekadar menjadi baik, melainkan menjadi yang terbaik.