1 March 2026 11:49
Jakarta: Kasus HIV disebut mengalami peningkatan di sejumlah wilayah. Namun para ahli menegaskan bahwa respons yang paling tepat bukanlah kepanikan, melainkan peningkatan edukasi, kesadaran risiko, dan akses terhadap pencegahan serta pengobatan.
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Jika tidak ditangani, HIV dapat berkembang menjadi AIDS, yaitu kondisi ketika daya tahan tubuh melemah secara signifikan. Meski demikian, dengan terapi antiretroviral (ARV) yang rutin dan teratur, orang dengan HIV dapat hidup sehat, produktif, dan memiliki harapan hidup yang baik.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), deteksi dini dan pengobatan teratur menjadi kunci utama dalam pengendalian HIV di Indonesia. Edukasi publik dinilai penting untuk mencegah kesalahpahaman dan stigma terhadap orang dengan HIV.
HIV menular melalui cairan tubuh tertentu dari orang yang terinfeksi. Penularan dapat terjadi melalui:
Yang perlu diluruskan, HIV tidak menular melalui bersalaman, berpelukan, berbagi makanan, duduk berdampingan, atau gigitan nyamuk.
Berdasarkan data dan edukasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pemahaman yang benar mengenai cara penularan sangat penting agar masyarakat tidak terjebak pada informasi keliru yang memperkuat stigma.
Risiko penularan lebih tinggi pada:
Banyak kasus baru terjadi karena rendahnya kesadaran untuk melakukan tes serta keterlambatan memulai terapi.
Beberapa langkah pencegahan yang direkomendasikan tenaga kesehatan antara lain:
Dalam dunia medis dikenal konsep U=U (Undetectable = Untransmittable), yaitu ketika seseorang dengan HIV rutin mengonsumsi ARV hingga viral load tidak terdeteksi, maka risiko penularan melalui hubungan seksual dapat ditekan sangat rendah.
Selain itu, tersedia juga metode pencegahan PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis) bagi individu dengan risiko tinggi, sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Para ahli menekankan bahwa HIV bukan persoalan moral, melainkan isu kesehatan masyarakat. Semakin cepat dideteksi dan diobati, semakin baik kualitas hidup yang dapat dicapai.
Edukasi melindungi, sementara stigma justru berbahaya. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat diharapkan dapat lebih peduli, lebih terbuka, dan lebih bijak dalam menjaga kesehatan diri sendiri serta lingkungan sekitar.
Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.
(Calista Vanis)