Ratusan siswa di Georgia melakukan aksi mogok belajar massal sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Badan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Amerika Serikat (ICE) baru-baru ini.
Para siswa keluar dari ruang kelas sambil meneriakkan slogan anti-ICE untuk merespons meningkatnya operasi penangkapan warga yang dilakukan oleh petugas keamanan.
Aksi bertajuk tidak bekerja, tidak sekolah, tidak berbelanja, ini dipicu oleh tewasnya dua warga sipil, Alex Pretti dan Renee Good, dalam satu bulan terakhir. Penembakan fatal yang dilakukan petugas federal tersebut telah menyulut kemarahan publik di berbagai negara bagian Amerika Serikat (AS).
Para demonstran menuntut pemerintahan Presiden Donald Trump untuk segera menghentikan operasi agresif yang dinilai melanggar hak asasi manusia (HAM). Mereka menilai tindakan keras petugas
ICE telah banyak merenggut nyawa warga yang tidak bersalah secara tidak adil.
Diberhentikan sementara
Sementara itu, ICE menyatakan, dua agen yang terlibat dalam penembakan fatal terhadap seorang warga negara AS di Minneapolis telah ditempatkan dalam cuti administratif.
Mengutip laporan BBC, Kamis, 29 Januari 2026, CBP mengatakan bahwa para agen telah dinonaktifkan dari tugas operasional sesuai dengan prosedur standar.
Umumnya, aparat penegak hukum federal yang terlibat dalam insiden penembakan akan tetap berada dalam status cuti hingga penyelidikan rampung. Namun, belum diketahui kapan cuti tersebut mulai diberlakukan dan berapa lama akan berlangsung.
Dalam kasus terpisah, seorang agen Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) yang menembak warga negara AS lainnya, Renee Good, juga berusia 37 tahun, pada 7 Januari di Minneapolis, turut ditempatkan dalam cuti administratif sambil menunggu hasil penyelidikan.
Presiden Donald Trump dalam beberapa hari terakhir menyatakan ingin melakukan “de-eskalasi” di Minneapolis, tempat DHS menjalankan Operasi Metro Surge sejak 1 Desember. Namun, pada Rabu, ia justru meningkatkan ketegangan verbal dengan Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey.
(Aulia Rahmani Hanifa)