Jakarta: Gelombang panas ekstrem kembali melanda beberapa negara di Eropa. Suhu udara bahkan tembus lebih dari 40 derajat Celcius. Ini memecahkan rekor dan membuat pemerintah setempat mengeluarkan peringatan darurat.
Kondisi ini, bukan cuma mengganggu aktivitas masyarakat, namun juga menyebabkan penggunaan listrik meningkat, resiko kebakaran hutan makin tinggi, dan juga berdampak pada kesehatan warga.
Para ilmuwan menilai perubahan iklim menjadi penyebab utama gelombang panas yang kini terjadi lebih sering, berlangsung lebih lama, dan juga terasa semakin ekstrem.
Negara yang terdampak gelombang panas ekstrem
Gelombang panas melanda sebagian besar wilayah Eropa Barat dan Eropa Tengah. Dengan suhu yang jauh di atas rata-rata musim panas, di Portugal misalnya, suhu sampai di 46,6 di wilayah Mora, menjadi salah satu suhu tertinggi yang pernah tercatat di bulan Juni.
Di Spanyol, suhunya 46 derajat Celcius di Provinsi Helva, sekaligus memecahkan rekor nasional di sana untuk bulan Juni. Prancis juga, ini kondisinya serupa. Sejumlah wilayah di bagian selatan mencatat suhu 41 sampai 42 derajat Celcius, sehingga pemerintah menetapkan status siaga tinggi di puluhan departemen.
Itali, kota-kota misalnya Roma, Florence, dan Bologna, mencatat suhu 39 sampai 40 derajat Celcius, sedangkan Pulau Sicilia dan Sardinia, ini mendekati 42 derajat Celcius. Di Jerman, suhu sempat tembus di 40 derajat Celcius di sejumlah wilayah, terutama untuk wilayah bagian barat dan juga selatan. Lalu untuk Inggris yang dikenal beriklim sejuk, juga mengalami suhu hingga sekitar 34 sampai 35 derajat Celcius.
Negara-negara Eropa Tengah, misalnya Polandia, Ceko, Slovakia, dan Hungaria, juga mencatat suhu antara 36 sampai 39 derajat Celcius, sehingga otoritas tempat mengeluarkan peringatan cuaca ekstrim. Data dari Copernicus Climate Change Service menunjukkan, ini merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia, karena itu gelombang panas seperti ini diperkirakan akan terjadi lebih sering dan semakin ekstrem di masa-masa mendatang.
Seperti apa kondisinya?
Suhu ekstrem yang saat ini terjadi membuat aktivitas masyarakat terganggu, ratusan sekolah ditutup atau dipersingkat jam belajarnya karena sebagian besar ruang kelas belum dilengkapi pendingin ruangan, jalur kereta api di sejumlah negara membatasi kecepatan perjalanan akibat rel memuai karena panas.
Di kota-kota besar seperti Paris, Roma, hingga Berlin, pemerintah juga membuka cooling center atau pusat peninginan yang bisa dimanfaatkan warga untuk berlindung dari suhu ekstrem. Sementara itu, risiko kebakaran hutan juga meningkat di kawasan Eropa Selatan yang sedang mengalami kekeringan. Gelombang panas ini mengubah pola aktivitas dan juga konsumsi masyarakat.
Dampak bagi warga
Penjualan kipas dan juga pendingin ruangan meningkat tajam karena banyak rumah di Eropa tidak dirancang untuk menghadapi suhu setinggi ini. Sejumlah peritel melaporkan stok kipas dan AC cepat habis di burung masyarakat. Di sisi lain, konsumsi listrik juga melonjak akibat penggunaan pendingin ruangan secara bersamaan.
Rumah sakit di berbagai negara juga melaporkan peningkatan jumlah pasien yang mengalami dehidrasi, heat stroke, sampai gangguan pernafasan. Kelompok klansia, anak-anak serta pekerja luar ruangan menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
Dampak yang lebih luas
Dampak gelombang panas ini tidak hanya dirasakan masyarakat tetapi juga dari segi ekonomi dan juga energi karena debit sejumlah sungai utama di Eropa menurun sehingga mengganggu transportasi sungai, irigasi pertanian sampai di operasional pembangkit listrik yang membutuhkan pasukan air sebagai pendingin.
Lonjakan penggunaan AC juga meningkatkan beban sistem kelistrikan di berbagai negara. Jadi, sejumlah operator listrik bahkan meningkatkan status kewaspadaan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan listrik selama cuaca ekstrim berlangsung. Para ilmuwan mengingatkan tanpa upaya mitigasi perubahan iklim yang lebih serius gelombang panas seperti ini berpotensi menjadi kondisi normal baru bagi Eropa di masa mendatang.
Kalau bicara soal panas yang kini melanda Eropa ini menjadi bukti juga bahwa dampak perubahan iklim semakin terasa di berbagai belahan dunia bukan hanya mencakan rekor suhu tapi juga mempengaruhi aktivitas masyarakat ketahanan energi sampai ekonomi. Tantangan ke depannya bukan lagi sekedar menghadapi cuaca ekstrem tapi bagaimana setiap negara nantinya mampu beradaptasi dengan iklim yang terus berubah.
Sumber: Redaksi Metro TV