Himbara Hadir di WEF Davos 2026, Bahas Sustainable Financing hingga Teknologi Perbankan

Marselina Tabita Tumundo • 21 January 2026 19:22

Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) turut ambil bagian dalam ajang bergengsi World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. Kehadiran bank pelat merah ini membawa misi strategis, mulai dari pembahasan pembiayaan berkelanjutan (sustainable financing) hingga penjajakan kerja sama teknologi untuk memperkuat industri perbankan Tanah Air.

Di Indonesia Pavilion, Himbara bersama sejumlah pemangku kepentingan menggelar diskusi panel khusus. Forum ini menyoroti posisi Indonesia sebagai negara berkembang yang menjadi penentu keberhasilan transisi pendanaan berkelanjutan secara global.

Diskusi ini mempertemukan investor global dengan perwakilan perbankan nasional untuk memecahkan masalah arus pembiayaan yang selama ini masih terfragmentasi. Tujuannya agar pembiayaan yang selaras dengan iklim dapat dimobilisasi secara masif.
 

Baca juga:
Hari Kedua World Economic Forum 2026 Digelar Produktif

BRI: Fokus Efisiensi Lewat AI dan Keamanan Digital

CEO BRI, Hery Gunardi, mengungkapkan bahwa WEF menjadi wadah strategis untuk bertemu dengan berbagai pihak, mulai dari bankir, sektor swasta, hingga perusahaan fintech. Selain berbicara di forum, BRI juga menggelar pertemuan tertutup dengan perusahaan pembayaran global seperti Visa dan Mastercard.

"Mereka punya kepentingan duduk dengan kami dan bicara ke depan langkah apa saja dari sisi teknologi, sekuriti, fraud detection, digital lab, dan seterusnya. Mereka punya teknologi yang bisa diimplementasikan di BRI," ujar Hery.

Hery menambahkan, BRI juga membidik adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk meningkatkan efisiensi operasional. Mengingat besarnya skala bisnis BRI dengan jumlah cabang dan pegawai yang masif, teknologi digital dan AI dinilai krusial untuk mendongkrak produktivitas.

Investor Soroti Proteksi Investasi

Sementara itu, Chief Financial Officer (CFO) Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menyebutkan tingginya antusiasme investor global terhadap Indonesia, khususnya di sektor teknologi finansial (fintech). Namun, para calon investor juga menuntut kepastian mengenai keamanan modal mereka.

"Yang banyak ditanyakan adalah proteksi ketika ada investasi masuk Indonesia. Kami bersyukur dengan adanya sesi ini semua pihak berkumpul dan berkoordinasi dengan baik, dengan Danantara dan BKPM, karena kami perbankan tidak bisa sendirian. Harus kolaborasi antara policy maker dan perbankan," jelas Novita.

Tantangan Talenta di Era AI

Selain isu finansial, Indonesia Pavilion yang mengusung tema "Indonesia Endless Horizon" juga menyoroti kesiapan sumber daya manusia (SDM). Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal BKPM, Nurul Ichwan, menyatakan bahwa diskusi mengenai tenaga kerja di era disrupsi teknologi mendapat respons positif.

"Memang mereka ingin mengetahui Indonesia lebih jauh. Tema yang diangkat tentang tenaga kerja dihubungkan dengan teknologi, apakah ini jadi ancaman atau peluang, dan apa tantangannya," ungkap Nurul.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Sofia Zakiah)