Membaca Arah Kritik Cak Imin ke PBNU

23 June 2026 22:14

Ketegangan hubungan antara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali memuncak setelah Muhaimin Iskandar melontarkan kritik keras. Pria yang akrab disapa Cak Imin itu menyebut PBNU di bawah kepemimpinan Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai periode paling mundur.

Analis politik Adi Prayitno menilai serangan terbuka Cak Imin merupakan cerminan dari akumulasi konflik internal di tubuh PBNU. Salah satu alasan kuat mengapa kepengurusan periode ini dicap buruk oleh Cak Imin, kata Adi, adalah masuknya urusan non-keagamaan ke dalam pusaran konflik organisasi. Ia menyoroti keterlibatan PBNU dalam urusan ekonomi-politik praktis seperti konsesi tambang, yang dinilai tidak pernah terjadi pada periode-periode sebelumnya.

"Konflik politik di internal PBNU kali ini didasarkan atas banyak hal yang menyebut terkait dengan persoalan tambang. Jadi itu yang sepertinya disebut oleh Gus Muhaimin ini adalah periode di mana kepengurusan PBNU kali ini itu dianggap yang terburuk dibandingkan dengan periode-periode yang sebelumnya," urai Adi Prayitno dalam tayangan Primetime News, Metro TV, Selasa 23 Juni 2026.

Di samping isu tambang, Adi melihat kritik tajam tersebut tidak terlepas dari peta hubungan politik bilateral kedua tokoh yang berada di kutub berbeda. Sejak Gus Yahya memimpin, haluan politik PBNU sengaja ditarik menjauh agar tidak beririsan tebal dengan PKB. Berbeda dengan era kepengurusan terdahulu di mana PBNU dan PKB selalu tampak identik dan berjalan seiringan, kini napas politik kedua lembaga tersebut justru kerap berhadapan secara diametral.

Menghadapi momentum Muktamar Agustus 2026, Adi Prayitno sepakat dengan gagasan perlunya sterilisasi PBNU dari syahwat politik elektoral maupun urusan kekuasaan. Sebagai organisasi sosial keagamaan tebersit di tanah air, fokus utama NU wajib dikembalikan untuk mengurus umat dan menjaga independensinya.

(Sofia Zakiah)