Bursa Asia Bergerak Terbatas Setelah Reli Wall Street

16 February 2026 17:31

Jakarta: Bursa saham Asia bergerak cenderung terkonsolidasi setelah sebelumnya menguat seiring reli di Wall Street. Pelaku pasar kini menimbang berbagai sentimen global, mulai dari prospek kebijakan suku bunga, perkembangan ekonomi Amerika Serikat (AS), hingga dinamika pasar keuangan internasional yang turut memengaruhi arah perdagangan di kawasan Asia. 

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh minimnya aktivitas perdagangan akibat libur di sejumlah pusat keuangan utama. Selain itu, rilis data ekonomi Jepang yang berada di bawah ekspektasi turut menahan laju penguatan bursa Asia pada pagi hari ini.

Pergerakan Bursa Asia menunjukkan tren pelemahan, di mana Nikkei 225 turun 0,07 persen ke 59.904,58, Hang Seng terkoreksi 0,24 persen ke 26.504,04, dan Kospi melemah cukup dalam sebesar 1,25 persen ke level 5.507,01. Sementara itu, Bursa AS bergerak cukup variatif, dengan Dow Jones turun 0,13 persen ke 50.121,40, S&P stagnan di level 6.941,47 atau 0,00 persen, dan Nasdaq melemah 0,16 persen ke 23.066,47.
 

Baca Juga: Ikuti Penguatan Bursa Asia, IHSG Lompat 1,22%

Kondisi ini terjadi karena pelaku pasar masih menanti rilis sejumlah data penting, seperti survei manufaktur global dan laporan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal keempat AS. Data tersebut dinilai dapat memberikan gambaran arah pertumbuhan ekonomi ke depan. Berdasarkan konsensus pasar, ekonomi AS diperkirakan tumbuh sekitar 3,0 persen secara tahunan, namun angka ini menunjukkan perlambatan dibandingkan pertumbuhan 4,4 persen pada kuartal sebelumnya. 

Sementara pertumbuhan ekonomi Jepang hanya 0,1 persen secara tahunan, jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan 1,6 persen. Angka ini menunjukkan kondisi ekonomi yang sedang melemah. Salah satu penyebab utamanya adalah turunnya belanja pemerintah, sehingga dorongan terhadap aktivitas ekonomi menjadi terbatas.

Selain itu, ada faktor lain yang memengaruhi pasar, yakni rotasi investasi dari saham teknologi ke saham-saham defensif. Perpindahan ini terjadi karena investor mulai khawatir terhadap besarnya biaya investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) serta meningkatnya persaingan di sektor perangkat lunak. Kondisi tersebut menekan valuasi saham teknologi, bahkan sektor ini tercatat kehilangan sekitar 24 persen nilai pasarnya dalam tiga bulan terakhir.

(Alfiah Ziha Rahmatul Laili)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Nopita Dewi)