Ujung Tragedi Kanjuruhan Belum Terlihat

10 October 2022 22:49

Ratusan personel Polresta Malang Kota yang tengah mengikuti apel terlihat bersujud di atas aspal pelataran parkir depan Mapolresta Malang Kota. Selama beberapa saat, mereka bersujud dan memohon ampun atas segala kesalahan dan mengenang hilangnya ratusan nyawa suporter Aremania dan personel Polri, saat tragedi Kanjuruhan terjadi Sabtu, 1 Oktober 2022 lalu.

Dalam sujud ini, personel Polresta Malang Kota berdoa bagi 131 korban meninggal dunia dan kesembuhan bagi ratusan korban luka lainnya. Data resmi yang dirilis Dinkes Jawa Timur, Minggu (9/10/2022) pagi menyebutkan, total korban meninggal dunia pada tragedi Kanjuruhan mencapai 131 orang dua di antaranya personel Polri yang melakukan pengamanan.

Sebanyak 557 orang tercatat menderita luka ringan dan sedang, sementara 26 lainnya luka berat. Dari seluruh korban,  30 orang pasien masih menjalani perawatan di sembilan rumah sakit kota dan Kabupaten Malang serta Kota Batu, hingga Minggu (9/10/2022)
 
Sementara itu, Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) tragedi Kanjuruhan terus melakukan investigasi di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Malang. TGIPF melakukan kunjungan langsung untuk mendalami sejumlah fakta di antaranya pintu yang tertutup. Faktanya, saat kejadian pintu 12 dan pintu 13 dalam kondisi tertutup saat kejadian. 

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) yang juga melakukan investigasi, mengaku ada kendala dalam mengumpulkan data. Sebab, banyak saksi mata yang menutup diri untuk menceritakan kondisi dan situasi yang mereka lihat dan rekam di lokasi saat tragedi terjadi.

Di akun Twitter Kontras, yang merilis temuan tim pencari fakta koalisi masyarakat sipil menyebut, ada 12 temuan di antaranya yang pertama tim menemukan bahwa terdapat mobilisasi sejumlah pasukan membawa gas air mata saat pertengahan babak kedua, padahal tidak ada ancaman atau potensi gangguan keamanan saat itu. Akhirnya, penggunaan gas air mata untuk menghalau massa suporter menjadi pemicu jatuhnya banyak korban jiwa.

Namun, Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo menjelaskan, penyebab kematian ratusan penonton bukan disebabkan akibat gas air mata, melainkan akibat kekurangan oksigen. Mengutip pendapat dari pakar racun dan gas air mata, penggunaan gas air mata termasuk yang digunakan Polri dalam tragedi Kanjuruhan, itu tidak mematikan.
 
Dari proses yang ada, ternyata tidak begitu saja mudah mengungkap apa yang terjadi di Kanjuruhan dengan korban jiwa mencapai 131 orang, dibutuhkan dorongan publik yang kuat agar tragedi ini tidak menguap begitu saja.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M. Khadafi)