12 September 2026 23:05
Sebanyak 17 Kepala Keluarga (KK) dari Desa Maro Pokokot, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, masih bertahan di tenda pengungsian mandiri meskipun bencana tsunami telah berlalu hampir empat pekan.
Para pengungsi mendirikan tenda darurat di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Nagekeo, akibat rumah mereka yang terletak di bibir pantai hancur diterjang luapan air laut pada 15 Agustus lalu.
Kondisi di lokasi pengungsian tergolong sangat terbatas, dengan satu tenda diisi lebih dari lima anggota keluarga. Mereka terpaksa tidur hanya beralaskan karpet masjid yang dihamparkan di atas permukaan tanah berbatu.
Baca Juga :
Selain kehilangan tempat tinggal, sebagian besar warga yang berprofesi sebagai nelayan mengaku belum berani kembali melaut akibat rasa trauma yang mendalam. Warga memilih kembali ke area pengungsian setiap malam hari untuk menjaga keselamatan keluarga setelah beraktivitas di sekitar area permukiman pada siang hari.
“Alasannya kami karena malam harus pulang kembali ke sini karena yang pertama kami masih trauma. Pada saat kejadian hari Sabtu tanggal 15 Agustus itu kami sendiri yang melihat, kami menyaksikan naiknya itu air laut sehingga sampai saat ini jangan pun saya sendiri, anak-anak kami sendiri pun mau turun ke bawah pun mereka trauma, takut. Sehingga kami tetap pagi aktivitas ke sana, nanti malam harinya kami kembali mengungsi di sini," ungkap pengungsi Desa Maropokot, Abdul Gani dalam tayangan Primetime News Metro TV, Sabtu, 12 September 2026.
Rasa trauma hebat yang dialami orang dewasa maupun anak-anak membuat mereka memilih untuk tidak menginap di kawasan pantai sebagai langkah antisipasi dan berjaga-jaga.