21 February 2026 18:59
Permintaan gula merah di wilayah Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, mengalami peningkatan drastis selama bulan suci Ramadan. Sayangnya, lonjakan pesanan yang biasanya digunakan untuk bahan pelengkap takjil ini belum berbanding lurus dengan kemampuan produksi para petani akibat keterbatasan pasokan bahan baku.
Kondisi tersebut salah satunya sangat dirasakan oleh para petani dan pengrajin gula merah yang beroperasi di kawasan Sungai Bermas, Kecamatan Siulak. Tingginya antusiasme pembeli dari berbagai daerah membuat mereka kewalahan.
Keterbatasan pasokan bahan baku utama, yakni tebu, menjadi kendala krusial yang membuat proses pengolahan tidak bisa digenjot secara maksimal. Dalam satu minggu, para petani di kawasan ini mengaku hanya mampu memproduksi gula merah di kisaran 800 kilogram hingga satu ton saja.
Padahal, volume permintaan pasar selama bulan puasa terus meroket tajam. Jika diakumulasikan, total pesanan yang masuk bahkan bisa menyentuh angka 10 ton per minggunya. Sebuah ketimpangan yang cukup besar antara persediaan barang dan tingginya permintaan pembeli.
Di tengah kelangkaan bahan baku dan tingginya pesanan, tidak terjadi lonjakan harga jual yang signifikan. Saat ini, harga gula merah di tingkat petani dibanderol pada kisaran normal, yakni Rp10.000 hingga Rp11.000 per kilogramnya. Salah seorang petani gula merah setempat, Retmisal, membenarkan bahwa hambatan utama mereka saat ini murni karena persoalan ketersediaan bahan mentah dari alam, bukan karena masalah distribusi pangan lainnya.
"Kita terkendala itu masalah bahan baku dan memenuhi permintaan pasar. Dalam satu minggu kalau sekarang ini bisa mencapai itu sekitar satu ton," ungkap Retmisal.
Para petani berharap ada solusi terkait ketersediaan bahan baku tebu ke depannya agar potensi pasar yang sangat besar di momen Ramadan ini bisa dimaksimalkan untuk meningkatkan roda perekonomian warga lokal.
(Nada Nisrina)