9 July 2026 22:48
Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke Iran di tengah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Momen tersebut memicu berbagai spekulasi mengenai alasan di balik waktu serangan yang dipilih Washington. Pakar Hubungan Internasional President University, Teuku Rezasyah, menilai langkah itu merupakan bagian dari strategi politik dan militer Presiden AS Donald Trump.
Ia menilai AS kemungkinan memanfaatkan momentum ketika Iran sedang berduka atas wafatnya Ali Khamenei dengan asumsi fokus pemerintah dan masyarakat Iran akan terpecah. Namun, perhitungan tersebut dinilai tidak sepenuhnya tepat.
"Trump berpikir Iran lengah karena seluruh energi dikerahkan untuk prosesi pemakaman. Padahal Iran merupakan peradaban yang sudah berusia empat ribu tahun dan dan mereka sudah terbiasa dengan naik turunnya politik di dalam negeri dan luar negeri. Dan kali ini Iran sudah berhasil mengirimkan peluru kendali ke target-target tertentu di Timur Tengah, bukan hanya di wilayah basis militer tapi juga di wilayah laut di mana kapal-kapal Amerika Serikat dan Israel berada," ujar Teuku dalam tayangan Primetime News Metro TV, Kamis 9 Juli 2026.
Teuku juga mengaitkan serangan tersebut dengan situasi politik Donald Trump. Menurutnya, Trump sedang menghadapi tekanan politik di dalam negeri sekaligus berupaya menunjukkan kepemimpinan Amerika Serikat di hadapan negara-negara anggota NATO yang mulai meragukan dominasi Washington.
"Negara-negara NATO mulai melihat bahwa statement dari jenderal-jenderal Amerika Serikat dan statement dari kepala staf gabungan dan juga statement dari mantan-mantan menteri pertahanan itu mengatakan bahwa Amerika Serikat sekarang dipimpin oleh orang yang tidak taat konstitusi. Mereka sudah melihat sendiri direktur Counter-Terrorism sudah mengundurkan diri. Jadi untuk itu tampaknya Amerika Serikat sudah mulai melemah, maka dari itu AS melakukan unjuk gigi dengan melakukan pemboman atas titik-titik tertentu di Iran. Analogi pemikiran AS adalah dalam kondisi sedang berduka cita, Iran akan melemah. Padahal sistem pertahanan Iran di darat, laut, dan udara terus diperkuat," jelasnya.