Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia atau FESyar KTI 2026 berlangsung di Nusa Tenggara Barat pada 10 hingga 12 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi ajang promosi dan pengembangan bagi ratusan UMKM binaan Bank Indonesia dari 22 provinsi di kawasan timur Indonesia melalui pameran, kompetisi, hingga business matching, yang diharapkan mampu memperluas pasar produk halal sekaligus meningkatkan daya saing UMKM nasional.
FESyar KTI 2026 menghadirkan beragam produk unggulan daerah. Mulai dari fashion, kerajinan, hingga produk makanan halal yang menampilkan kekayaan budaya dari berbagai wilayah di kawasan timur Indonesia.
Salah satu produk yang menarik perhatian pengunjung adalah wastra khas Gorontalo bernama Karawo. Kain sulam tradisional ini memiliki proses pembuatan yang panjang dan memerlukan ketelitian yang tinggi, mulai dari perancangan motif, pengirisan serat, penyulaman, hingga tahap akhir menjadi karya siap pakai. Keunikan teknik pembuatannya menjadikan Karawo memiliki nilai seni dan nilai ekonomi yang tinggi. Melalui sentuhan desain modern, produk ini kini hadir dalam berbagai koleksi fashion yang mampu menarik minat pasar lebih luas.
"Jadi kita dari Gorontalo itu punya wastra, namanya Karawo. Karawo itu adalah salah satu teknik yang dilakukan dengan beberapa tahap. Teknik sulam yang dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu mulai dari mendesain motif, kemudian mengiris, menyulam, kemudian merawang, dan melakukan finishing hingga menjadi satu sulaman seperti ini. Di sini ini adalah produk ready-to-wear-nya. Ready-to-wear sendiri merupakan karya-karya desainer-desainer Gorontalo yang merupakan binaan UMKM binaan Bank Indonesia." kata Pelaku UMKM Gorontalo, Isna, dikutip dari tayangan Zona Bisnis, Metro TV, Rabu, 15 Juli 2026.
Tidak hanya menjadi ajang pameran, FESyar juga membuka peluang bagi para pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha melalui berbagai program pembinaan. Para peserta mendapatkan akses pelatihan, kurasi produk, hingga pendampingan pemasaran digital yang membantu usaha mereka terus bertumbuh. Manfaat tersebut juga dirasakan oleh pelaku UMKM dari Papua Barat yang berhasil mengembangkan produk batik khas daerah hingga menjangkau pasar internasional.
"Di sini saya membawa batik tulis Papua beserta batik printing dan turunannya serta baju ready-to-wear beserta beberapa aksesoris dan suvenir. Ya, alhamdulillah, jadi BI itu ternyata juga membuka untuk UMKM-UMKM binaan, ada proses seleksinya. Nah, mereka menyusuri UMKM-UMKM yang ada di Papua Barat. Jadi ketemulah kita, kemudian kami ikut kurasinya. Jadi setelah dikurasi baru kami menjadi UMKM binaan. Dan alhamdulillah kita dapat banyak pelatihan dan juga banyak pembinaan dari BI sehingga produk kami banyak berkembang pesat sampai sekarang." ucap Pelaku UMKM Papua Barat, Desi Riani.
Bank Indonesia menyatakan FESyar KTI menjadi bagian dari strategi memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di kawasan timur Indonesia. Melalui kegiatan ini, pelaku UMKM didorong agar mampu meningkatkan transaksi produk halal, memperluas akses pembiayaan, serta membangun jejaring bisnis yang lebih luas.
"Pertama, tujuan dari Festival Ekonomi Syariah KTI 2026 ini adalah kita mendorong yang transaksi halal sebetulnya. Transaksi halal ini artinya bagaimana kita mendorong halal food, kemudian juga modest fashion. Di situ juga ada pariwisata ramah muslim, fashion juga di dalamnya bagaimana kita mendorong produk-produk halal tersebut dalam business matching salah satunya. Kedua, terkait dengan bagaimana kita mendorong ekonomi dan keuangan syariah, baik yang komersial maupun sosial, di regional. Yang ketiga adalah literasi dan edukasi. Jadi itu tiga hal yang kita dorong atau tujuannya dalam konteks bagaimana kita mendorong Fesyar di regional." ucap Deputi Kepala Perwakilan BI NTB, Andhi Wahyu Riyadno.
Melalui sinergi antara Bank Indonesia, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan, FESyar KTI diharapkan mampu melahirkan lebih banyak
UMKM yang berdaya saing dan siap menembus pasar nasional maupun internasional.