Warga Pandansari Semarang Rayakan Kemerdekaan Lewat Budaya

Metro TV • 13 August 2026 17:43

Semarang: Perayaan kemerdekaan tidak selalu harus diisi dengan perlombaan atau panggung hiburan. Warga Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah, memilih merayakan HUT ke-81 Republik Indonesia dengan mengangkat sejarah dan budaya melalui kegiatan bertajuk Pajatan Budaya bersama Komunitas Swara Kesadaran.

Kegiatan yang digelar di Jalan Pandansari 3 tersebut turut menghadirkan peta kuno Kota Semarang yang dibuat pada 1695. Peta berusia lebih dari tiga abad itu menjadi salah satu sumber untuk melihat kembali sejarah sekaligus identitas masyarakat Semarang.
 

 

Angkat Sejarah Semarang

Kegiatan mengusung tema “Perubahan Sosial dan Ketidakberdayaan Rakyat Menghadapi Tekanan Negara: Membangun Kesadaran Budaya, Keadilan, dan Peradaban.” Acara diawali dengan pertunjukan seni, salah satunya Tari Semarangan yang dibawakan anak-anak Pandansari.

Selain pertunjukan seni, dilakukan penyerahan peta kuno Kota Semarang dari Tenaga Pemugaran Cagar Budaya, Bukhori Masruri, kepada Karang Taruna Pandansari. Peta yang dibuat oleh M.D. Roy pada 1695 tersebut dinilai penting untuk membantu masyarakat memahami perjalanan sejarah dan identitas Kota Semarang.

Masyarakat Perlu Akses Arsip

Arsiparis ISI Surakarta, Jamal, mengatakan masyarakat masih menghadapi keterbatasan dalam mengakses arsip yang berkaitan dengan sejarah masa lalu. Menurutnya, akses terhadap arsip penting agar masyarakat dapat melihat langsung sumber sejarah dan memahami kembali identitas mereka.

“Jadi itu perlu disadarkan untuk membaca ulang historiografi kita, untuk mendefinisikan ulang identitas siapa kita,” ujar Jamal.

Ia menjelaskan, peta lama yang merupakan koleksi National Archive tersebut juga menunjukkan bahwa nama Terboyo telah tercatat sejak 1695.

Hal tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana arsip lama dapat membuka pemahaman baru mengenai sejarah Semarang. Jamal juga menyoroti keberagaman etnis yang telah lama hidup berdampingan di Semarang. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya toleransi dalam kehidupan masyarakat.

“Di Semarang itu ada banyak sekali etnis yang hidup berdampingan, yang mana itu menjadi kesadaran bahwa toleransi itu menjadi suatu keniscayaan,” katanya.
   

Budaya Bukan Sekadar Seremonial

Sementara itu, Bukhori Masruri menilai kegiatan budaya perlu lebih dari sekadar menjadi agenda formal. Menurutnya, diperlukan ekosistem yang memungkinkan kebudayaan terus tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.

“Formalistik dalam artian itu hanya menjadi peristiwa-peristiwa formal tanpa satu konsentrasi pada bagaimana membangun ekosistem agar sebuah kebudayaan itu bisa tumbuh,” ujar Bukhori.

Ia berharap Komunitas Swara Kesadaran dapat ikut mendorong terbentuknya ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan kebudayaan. Bukhori juga mengajak masyarakat melihat kembali makna kemerdekaan dari sisi kehidupan sehari-hari, bukan hanya melalui perayaan yang bersifat formal.

“Merdeka itu kan masalah rasa ya, apakah memang masyarakat saat ini sudah merasakan ada kemerdekaan untuk menjalani kehidupan mereka,” katanya.

(Zein Zahiratul Fauziyyah)


Close Ads X
Close Ads X