1 August 2026 00:02
Kawasan Canggu, Bali, mendadak gempar setelah sebuah komunitas lari bernama Entourage Bali diduga melakukan tindakan diskriminatif terhadap warga negara Indonesia (WNI). Isu ini meledak di media sosial setelah muncul laporan bahwa warga lokal dilarang bergabung dalam kegiatan lari, sementara peserta asing diperbolehkan.
Kronologi dan Kejanggalan
Kejadian ini memicu kemarahan publik karena acara tersebut digelar di tanah Indonesia, menggunakan jalur publik di Indonesia, dan menyebabkan kemacetan yang dirasakan warga Indonesia. Namun, ironisnya, saat warga lokal ingin berpartisipasi, mereka justru "diinterogasi" layaknya sedang berada di pemeriksaan imigrasi.
"Coba bayangin, acaranya di Indonesia, jalurnya di Indonesia, tapi giliran orang kita mau ikut malah ditanya paspor mana? Ini komunitas lari atau petugas imigrasi?" ujar Valentinus Resa dalam tayangan Meet Nite Live Metro TV, Jumat, 31 Juli 2026.
Penyelenggara Kabur ke Singapura
Hasil penelusuran mengungkapkan bahwa komunitas ini digawangi oleh dua WNA asal Belanda yang masing-masing memegang izin tinggal (ITAS) kerja dan investor. Namun, begitu isu ini viral dan menjadi sorotan pihak berwenang, keduanya diketahui telah meninggalkan Indonesia menuju Singapura.
Merespons hal tersebut, pihak Imigrasi langsung mengambil langkah tegas dengan melakukan penangkalan agar para pelaku tidak bisa kembali ke Indonesia. Selain itu, penyelenggara dan sponsor acara turut dipanggil untuk dimintai keterangan.
Aturan Tegas bagi WNA
Pemerintah menegaskan aturan main bagi orang asing di Indonesia, WNA dilarang menjadi penyelenggara acara (event organizer) di Tanah Air dan hanya diperbolehkan bertindak sebagai kru.
Polemik ini juga mendapat perhatian dari senator asal Bali, Ni Luh Djelantik, dan influencer lari internasional, Josh Fothergill. Pesan mereka selaras, siapapun yang membuat acara di Indonesia wajib menghormati warga lokal.
Alibi "Error Sistem"
Setelah gelombang protes memuncak, pihak Entourage Bali akhirnya menyampaikan permintaan maaf. Mereka berdalih bahwa komunitas tersebut awalnya dibentuk khusus untuk para digital nomad. Terkait penolakan pendaftaran nomor telepon Indonesia, mereka mengklaim hal tersebut terjadi karena adanya kesalahan teknis atau error pada sistem pendaftaran. Sebagai bentuk tanggung jawab, seluruh kegiatan komunitas tersebut kini dihentikan sementara.