Karhutla Kalteng: 4.115 Hektare Lahan Hangus dan 14.621 Titik Panas Terdeteksi

20 August 2026 19:28

Krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Tengah kian mengkhawatirkan. Hingga 19 Agustus 2026, tercatat sebanyak 4.115 hektare lahan telah hangus terbakar dengan akumulasi mencapai 14.621 titik panas (hotspot) sejak awal tahun.

“Data per hari Rabu tanggal 19 Agustus kemarin, hotspot yang ada di Kalteng sejak Januari sampai dengan 19 Agustus 2026 adalah sebanyak 14.621 hotspot,” ujar Kalaksa BPBPK Kalteng, Ahmad Toyib, dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Kamis, 20 Agustus 2026.

Ahmad Toyib, mengungkapkan telah terjadi 1.543 kali kebakaran dengan luas lahan 4.115 hektare yang ada di Kalteng. Pemerintah daerah memberikan perhatian khusus pada tiga wilayah dengan tingkat kebakaran paling parah, yakni Kabupaten Kotawaringin Timur, Kota Palangka Raya, dan Kabupaten Pulang Pisau.

“Ada dua kabupaten dan satu kota yang menjadi perhatian khusus kami karena banyak dan luasnya kejadian karhutla yaitu Kabupaten Kotawaringin Timur, kemudian Kota Palangkaraya, dan Kabupaten Pulang Pisau,” kata Ahmad.

10.700 personel gabungan diturunkan


Untuk mengatasi amukan si jago merah, sebanyak 10.700 personel gabungan dari BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, hingga relawan telah dikerahkan ke titik-titik api secara bertahap.


Upaya pemadaman di lapangan menghadapi kendala berat. Ahmad menyebutkan bahwa hujan tidak turun di wilayah tersebut selama hampir satu bulan, yang memicu kelangkaan sumber air di lokasi kejadian. Selain itu, tekstur tanah gambut yang mendominasi lahan memerlukan penanganan khusus. 

“Tekstur gambut ini memang berbeda dengan tanah mineral, jadi perlu perlakuan khusus sehingga satgas udara kami arahkan menggunakan water bombing bantuan dari BNPB itu berfungsi untuk memadamkan kepala api. Setelah kepala apinya padam, nanti regu darat atau tim darat yang akan melakukan pendinginan dan pembasahan." tutur Ahmad.

Terkait upaya hujan buatan, Ahmad menjelaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebenarnya telah dilaksanakan sebanyak tiga kali sejak Mei lalu melalui kerja sama BMKG dan BNPB. Namun, saat ini operasi tersebut terpaksa dihentikan. 

"BMKG dan BNPB di sejak bulan Mei kemarin sudah ada tiga kali melaksanakan operasi modifikasi cuaca. Akan tetapi memang kendala saat ini karena memang sudah potensi awan hujannya sudah sangat sulit ditemukan, sudah tidak ada lagi muncul, maka tentu saja OMC sudah dihentikan oleh pihak BNPB dan BMKG karena bagaimanapun operasi OMC sangat ditentukan oleh ketersediaan potensi awan hujan yang terbentuk," katanya.

Pemerintah terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tidak melakukan pembakaran lahan secara sengaja di tengah kondisi cuaca ekstrem ini.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X