NEWSTICKER

Bedah Editorial MI: Muhammadiyah Jangkar Indonesia

21 November 2022 09:05

Indonesia ialah negeri yang dianugerahi Sang Pencipta dengan berbagai keindahan. Keberagaman suku, budaya, agama, dan bahasa ialah bagian dari keindahan yang perlu dijaga segenap anak bangsa. Keberagaman itulah yang memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Sejarah perjalanan bangsa ini banyak mengalami ujian. Fundamentalisme keagamaan yang berujung radikalisme merupakan catatan buram perjalanan bangsa ini. Ujian kebangsaan yang merongrong keberagamaan tak pernah berakhir seiring dengan ideologi transnasional begitu mudahnya memengaruhi sebagian anak bangsa ini pada era sekarang ini. 

Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia memiliki peran penting dalam membangun tegaknya NKRI sejak perjuangan kemerdekaan, persiapan kemerdekaan, hingga pascakemerdekaan. Berdirinya Muhammadiyah oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 salah satunya disebabkan kesadaran membangun persyarikatan untuk melawan penjajahan Hindia Belanda. 

Muktamar Ke-48 Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jawa Tengah, berakhir sudah. Duet Haedar Nashir dan Abdul Mu’ti terpilih kembali masing-masing sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah dan Sekretaris Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah masa bakti 2022-2027. 

Duet itu teruji dalam membangun Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan yang menyebarkan gagasan Islam berkemajuan, adaptif dengan kemajuan zaman dalam bingkai Islam rahmatan lil’alamin (Islam rahmat untuk semua alam). Selain itu, era Haedar dan Abdul Mu’ti dalam kepemimpinan kolektif kolegial dan sistem persyarikatan banyak melahirkan amal usaha Muhammadiyah di segala bidang, mulai pendidikan, kesehatan, sosial, hingga ekonomi. 

Dalam sambutannya seusai ditetapkan sebagai ketua umum terpilih, Haedar menyampaikan lima pesan, di antaranya pihaknya akan terus menggelorakan pandangan Islam berkemajuan, Islam yang membawa kedamaian, menyatukan, membawa optimisme, dan menghadirkan kemajuan bagi seluruh masyarakat, bangsa, dan global. 

Pidato itu menyejukkan sekaligus membawa kegembiraan bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi yang berusia 110 tahun akan berdiri di garis terdepan membangun keumatan dan kebangsaan. Misi gerakan dakwah dan tajdid (pembaruan) Muhammadiyah akan tetap menghidupkan pilar-pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. 

Kepemimpinan Haedar Nashir akan menghadapi ujian dalam kontestasi Pemilu 2024. Suara anggota Muhammadiyah yang berjumlah sekitar 60 juta jiwa tentu akan diperebutkan semua kekuatan politik di Tanah Air. Sikap Muhammadiyah yang tak akan bermain dalam politik praktis, tetapi bermain dalam politik kebangsaan, bertanggung jawab untuk tegaknya moral kehidupan berbangsa dan bernegara, sikap yang sangat berharga bagi konsolidasi demokrasi yang sehat di Republik ini. 

Benar belaka apa yang disampaikan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin saat penutupan Muktamar Muhammadiyah bahwa Muhammadiyah memiliki semua perangkat untuk mewujudkan Islam berkemajuan. Pada gilirannya, perangkat itu juga akan membawa bangsa ini kepada Indonesia yang berkemajuan.

Sumber: Media Indonesia