Jakarta: Anggapan bahwa ikan hiu merupakan hewan yang kebal terhadap penyakit kanker merupakan mitos yang tidak memiliki dasar ilmiah kuat. Meskipun populer di tengah masyarakat, penelitian terbaru menunjukkan bahwa predator laut ini tetap dapat terserang berbagai jenis tumor dan kanker.
Asal Mula dan Kegagalan Bukti Ilmiah
Klaim mengenai
kekebalan hiu terhadap kanker mulai meluas pada era 1990-an setelah terbitnya literatur yang mempromosikan tulang rawan hiu sebagai obat alternatif. Hal tersebut didukung oleh penelitian awal yang gagal menemukan tumor pada hiu setelah terpapar zat karsinogen, namun prosedur riset tersebut dinilai kurang menyeluruh oleh para ahli di masa kini.
Berikut adalah rincian fakta ilmiah yang membantah mitos tersebut:
- Temuan Peneliti: Para ilmuwan telah mendokumentasikan adanya tumor dan sel kanker pada berbagai spesies, termasuk pada hiu putih besar dan hiu paus.
- Proses Angiogenesis: Tulang rawan hiu memang mengandung zat yang dapat menghambat pertumbuhan pembuluh darah baru atau angiogenesis yang merupakan ciri tumor.
- Klaim Pengobatan: Hingga saat ini tidak terdapat bukti medis yang memvalidasi bahwa konsumsi tulang rawan hiu mampu menyembuhkan kanker pada tubuh manusia.
- Risiko Kesehatan: Mengandalkan metode pengobatan yang tidak teruji secara klinis justru berisiko memperburuk kondisi pasien karena penanganan medis yang tepat menjadi tertunda.
Ketidakakuratan informasi ini menyebabkan miskonsepsi besar dalam dunia pengobatan alternatif selama beberapa dekade terakhir. Para ahli biologi kelautan menegaskan bahwa
hiu memang memiliki sistem imun yang unik, namun hal itu tidak membuat mereka sepenuhnya kebal dari mutasi sel.
Dampak Ekologis dan Ancaman Perburuan
Penyebaran mitos "
hiu kebal kanker" memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap ekosistem laut global. Kepercayaan masyarakat terhadap khasiat tulang rawan hiu mendorong aktivitas perburuan besar-besaran yang mengancam keberlangsungan hidup spesies predator puncak ini.
Penurunan populasi hiu secara drastis berisiko mengganggu keseimbangan rantai makanan di lautan lepas. Berikut adalah dampak nyata dari perburuan hiu yang didorong oleh mitos:
- Penurunan Populasi: Jutaan hiu dibunuh setiap tahunnya hanya untuk diambil bagian tulangnya guna memenuhi permintaan pasar obat ilegal.
- Ketidakseimbangan Ekosistem: Sebagai predator puncak, hilangnya hiu menyebabkan ledakan populasi spesies di bawahnya yang kemudian merusak ekosistem terumbu karang.
Para ilmuwan dan lembaga konservasi internasional terus berupaya mengedukasi publik agar tidak terjebak dalam disinformasi medis yang merugikan. Penggunaan tulang rawan hiu sebagai obat kanker dinyatakan tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kredibel.
Kesimpulannya,
hiu adalah makhluk hidup yang tetap rentan terhadap penyakit seperti hewan lainnya di bumi. Melindungi populasi hiu jauh lebih penting bagi masa depan lingkungan daripada mengonsumsi produk yang belum terbukti secara medis.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Daffa Yazid Fadhlan)