17 October 2026 13:31
Jakarta: Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) bersiap mengucurkan dana segar ke pasar modal domestik di tengah tren pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Penurunan indeks yang dipicu sentimen rilis indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) tersebut justru dipandang sebagai peluang emas untuk masuk dan memperkuat portofolio investasi.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara sekaligus Menteri Investasi, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa koreksi pasar modal belakangan ini telah menekan valuasi sejumlah emiten terkemuka di Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk perusahaan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN), ke level yang atraktif.
"Kami dari Danantara dan selaku Menteri Investasi melihat bahwa momen ini adalah sebuah peluang. Valuasi dari perusahaan-perusahaan kita yang melantai di bursa, termasuk emiten BUMN, saat ini tergolong rendah akibat terjadinya koreksi," ujar Rosan dalam tayangan Headline News Metro TV, Sabtu 17 Oktober 2026.
Rosan memaparkan, Danantara memposisikan diri sebagai investor jangka panjang (long-term investor), bukan pemodal spekulatif yang keluar-masuk pasar dalam waktu singkat (in and out).
"Kami meyakini dan telah menganalisis bahwa fundamental emiten kita sangat baik dan solid. Di sektor perbankan, misalnya, kinerjanya kokoh, tetapi valuasinya tercatat di bawah one-time price-to-book value (PBV) serta di bawah median valuasi industri kawasan (peers). Begitu pula dengan sektor infrastruktur dan telekomunikasi," imbuhnya.
Sebelumnya, penyedia indeks global MSCI membuka konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market (pasar berkembang) ke standalone market (pasar mandiri).
Usulan tersebut muncul di tengah kekhawatiran terhadap transparansi kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi di pasar modal Indonesia.
Pengumuman MSCI pada 15 Oktober 2026 tersebut diikuti penurunan di pasar saham domestik. Pada Jumat, 16 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung turun hingga sebanyak 658,533 poin setara 11,23 persen ke level 5.205,247 pada pukul 09.32 WIB.
MSCI menyatakan kekhawatiran pelaku pasar telah meningkat signifikan terhadap kemampuan investasi di pasar modal Indonesia. Perhatian tersebut mencakup ketidakjelasan yang terus berlanjut dalam struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi.