Karhutla di Prabumulih Meluas ke Tiga Desa, Kabut Asap Pekat Selimuti Permukiman

10 October 2026 10:38

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda tiga desa di Kecamatan Rambang Kapak Tengah, Kota Prabumulih, Sumatra Selatan. Kebakaran yang melahap puluhan hektar lahan tersebut sulit dipadamkan dan memicu kabut asap pekat di wilayah permukiman warga.

Jurnalis Metro TV, Usamah melaporkan dampak penurunan jarak pandang yang cukup signifikan akibat paparan asap kebakaran.

"Kebakaran lahan selama beberapa hari yang sulit dilakukan pemadaman semakin meluas dan menimbulkan kabut asap tebal dengan jarak pandang hanya 700 meter," ujar Usamah dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Dampak Kabut Asap dan Langkah Penanganan

Usamah menyebut bahwa paparan kabut asap memburuk pada jam-jam tertentu. "Kebakaran lahan terjadi lagi di Kecamatan Rambang Kapak Tengah, yaitu tiga desa yang memakan puluhan hektar. Nah di sini, dampak dari kebakaran lahan ini selama sepekan ini terjadi kabut asap pada sore hari sampai malam hari," ungkapnya.

Guna menanggulangi bencana ini, tim gabungan dari Pemerintah Kota Prabumulih, BPBD, dan Polres Prabumulih terus bergerak memadamkan titik api di wilayah perbatasan.

"Dari Pemerintah Kota Prabumulih ini langsung dikomandoi Wali Kota Haji Arlan dan bersama petugas BPBD dan Polres Prabumulih, mereka sudah berjibaku dan menyiapkan untuk mengatasi kebakaran lahan di wilayah perbatasan," jelas Usamah.

Selain mengupayakan pemadaman, Polres Prabumulih membagikan masker serta meminta warga setempat membatasi kegiatan di luar ruangan demi menjaga kesehatan.

"Dari Polres Prabumulih sudah membagikan masker dan mengimbau kepada masyarakat agar mengurangi aktivitasnya karena kabut asap yang tebal ini," lanjutnya.
 


Akses Lokasi Jadi Kendala Utama Pemadaman

Upaya pemadaman darat di lapangan menemui hambatan serius karena medan menuju titik kebakaran tidak dapat dilalui armada pemadam.

"Menjadi tantangan di kebakaran lahan di Kota Prabumulih ini karena lokasinya sangat sulit dijangkau, seperti mobil pemadam itu tidak bisa dijangkau dan membutuhkan waktu atau membuka lahan seperti memakai alat berat," pungkas Usamah.

Kondisi geografis tersebut memaksa petugas mengerahkan alat berat guna membuka jalur akses baru agar penanganan api dapat berjalan efektif.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X