Empat Hari Pascagempa, Ribuan Pengungsi Desa Nangahale Tidur Tanpa Atap

19 August 2026 18:45

Kondisi ribuan pengungsi terdampak gempa tektonik magnitudo 7,7 di Desa Nangahale, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan sangat memprihatinkan. Hingga hari keempat pascagempa, sebanyak 2.581 warga bertahan di pengungsian mandiri dengan fasilitas yang sangat terbatas.

Berdasarkan pantauan di lokasi, para pengungsi mendirikan tenda seadanya di area kebun dan bangunan SMK yang baru dibangun, berjarak sekitar satu kilometer dari pemukiman mereka. Banyak tenda hanya berbahan terpal bekas tanpa atap yang layak, sehingga warga terpaksa tidur beralaskan tanah di ruang terbuka.

Kondisi ini diperparah dengan masih seringnya terjadi gempa susulan. Warga secara swadaya menyiagakan sebuah mobil khusus sebagai tempat evakuasi cepat bagi balita dan tujuh hingga delapan ibu yang baru melahirkan guna mengantisipasi gempa susulan.

Wijayanti, salah satu pengungsi, mengeluhkan minimnya bantuan. “Kami hanya mendapatkan sebatas sembako seperti beras, mi, telur dengan minyak goreng dengan gula. Sudah ke desa tapi belum ada bantuan terpal makanya kami tetap di sini. Kami takut juga mau apa cari tempat lain makanya kami tetap di sini,” ungkapnya dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Rabu, 19 Agustus 2026.

Selain masalah tempat tinggal, warga juga kesulitan mendapatkan air bersih dan kebutuhan khusus anak. Para pengungsi berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan tenda layak, popok, serta susu karena banyaknya anak-anak yang ikut mengungsi.

Jumlah pengungsi di Desa Nangahale ini tercatat lebih banyak dibandingkan pusat kota. Hingga saat ini, belum ada informasi resmi dari pemerintah daerah mengenai instruksi relokasi atau batas waktu aman bagi warga untuk kembali ke rumah masing-masing.
 



Bantuan untuk Desa Terpencil di Ende

Setelah lima hari bertahan hidup secara mandiri, bantuan logistik dan tenda darurat akhirnya menjangkau warga terdampak gempa di Desa Peozakaramba, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Lokasi desa yang berada di dataran tinggi dengan akses jalan terjal sempat menyulitkan pendistribusian bantuan.

Selama masa penantian sejak gempa terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 lalu, warga bergotong royong membangun tenda dan dapur darurat secara swadaya. Kebutuhan pangan dan pakaian dipenuhi melalui aksi solidaritas antarwarga serta dukungan dari BUMDes setempat. Tercatat sebanyak tujuh hingga 11 rumah di wilayah ini mengalami kerusakan.

Pada sore tadi, tim BNPB bersama Bupati dan Wakil Bupati Ende tiba di lokasi untuk mendirikan tenda pengungsian resmi dan menyalurkan sembako berupa beras, sabun, serta makanan anak.

“Bantuan baru datang sore tadi. ni ada beras, ada sabun, ada jajan untuk anak-anak. Dari BNPB. Selama empat hari ini kami dibantu sesama warga tetangga kami,” ujar salah satu pengungsi, Fenti.

Meski bantuan logistik mulai masuk, pengungsi melaporkan masih sangat membutuhkan air minum bersih, selimut, bantal, dan obat-obatan. Selain itu, sinyal komunikasi yang buruk dan keterbatasan air bersih menjadi kendala utama di lokasi pengungsian.

Kepala BNPB Suharyanto menyatakan bahwa saat ini status penanganan bencana telah memasuki masa transisi darurat menuju pemulihan. Pemerintah pusat kini memprioritaskan verifikasi data kerusakan bangunan dari pemerintah daerah agar bantuan perbaikan rumah warga dapat segera diproses.

Warga berharap proses renovasi rumah segera dilakukan karena kondisi di tenda pengungsian sangat tidak memadai, terutama bagi anak-anak dan lansia.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X