2 August 2026 14:48
Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa Indonesia telah resmi memasuki fenomena El Nino kategori kuat. Kondisi ini diprediksi berpotensi memicu musim kemarau yang lebih panjang dan ekstrem hingga kuartal pertama tahun 2027.
Dampak fenomena iklim ini dilaporkan telah dirasakan di sejumlah kawasan. Di Kabupaten Lebak, Banten, kekeringan parah memaksa warga di tujuh kecamatan berjalan hingga 5 km demi mendapatkan air di sungai untuk kebutuhan harian.
Sementara itu, di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, pendangkalan Sungai Kapuas akibat kemarau membuat warga dan PDAM setempat terpaksa mengolah air bercampur lumpur demi pasokan air bersih.
Menurut BMKG, wilayah Indonesia di bagian selatan khatulistiwa menjadi area paling terdampak akibat beririsannya fenomena El Nino dengan siklus musim kemarau. Wilayah tersebut mencakup:
Di sejumlah daerah di Pulau Jawa, BMKG mencatat status Hari Tanpa Hujan (HTH) bahkan telah melebihi 60 hari berturut-turut, yang mengindikasikan tingkat kekeringan ekstrem. Memasuki bulan Agustus dan September, ancaman ini diprediksi akan semakin memuncak dan meluas ke kawasan Sumatera bagian tengah.
Untuk menekan dampak kekeringan dan mengantisipasi risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), pemerintah lintas kementerian/lembaga bersama BMKG terus menggalakkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Beberapa langkah konkret yang sedang dan telah berjalan antara lain:
BMKG mengimbau masyarakat dan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk terus memperkuat koordinasi serta memantau perkembangan cuaca secara berkala melalui kanal-kanal informasi resmi pemerintah.