9 April 2026 09:48
DUNIA mulai sedikit bernapas lega setelah terjadi gencatan senjata sementara antara Iran dan Amerika Serikat. Kesepakatan itu sekaligus membuka peluang bagi pemulihan kegiatan pelayaran di Selat Hormuz yang selama ini terhenti akibat konflik Timur Tengah.
Sejak meletus konflik pada 28 Februari silam, ketika Amerika Serikat bersama Israel menyerang Iran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), langsung menutup selat yang dilalui 20% distribusi minyak dunia tersebut. Semua negara langsung dibuat kalang kabut, tidak terkecuali Indonesia.
Harga minyak dunia sontak melambung tinggi. Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman itu memang memiliki peran yang teramat krusial. Seperlima pasokan minyak dunia (20 juta barel) dan sebagian besar gas alam cair (LNG) melintasi jalur tersebut.
Begitu Iran menyatakan setuju membuka Selat Hormuz selama dua minggu, perdagangan minyak dunia bereaksi positif. Harga minyak mentah Brent berjangka Juni turun 12,6?ri penutupan sebelumnya menjadi 91,92 dolar AS per barel.
Ini pertama kalinya terjadi harga Brent jatuh di bawah 92 dolar AS sejak 23 Maret. Sementara itu, minyak mentah west texas intermediate (WTI) berjangka Mei turun 16,6% menjadi 94,10 dolar AS (sekitar Rp1,6 juta).
Gangguan ekspor minyak melalui Selat Hormuz diperkirakan sempat mencapai sekitar 13 juta barel per hari pada Maret. Negara-negara di Asia menjadi kawasan yang sangat rentan karena mengimpor sekitar 60% minyak dan 80% gas dari Timur Tengah.
Belajar dari situasi itu, harus kita katakan perang memang tidak akan pernah membawa kebaikan, apapun alasan pencetusnya. Sebaliknya, damai yang sempat terabaikan selama 41 hari justru terbukti menjadi bahasa universal yang berguna bagi kemaslahatan bersama.
Oleh karena itu, publik amat menantikan pihak-pihak yang bertikai, Amerika Serikat dan Iran, benar-benar serius untuk menghadirkan damai ketika perundingan yang dimediatori oleh Pakistan akan dimulai pada Jumat (10/4) waktu setempat.
Dalam perundingan itu, jangan ada pihak yang mau menang sendiri dan mengabaikan kepentingan negara lain. Iran sudah mengusulkan untuk tetap memegang kendali atas Selat Hormuz dan ini rasanya sangat wajar sehingga bisa dinegosiasikan.
Hal lainnya ialah Iran juga berkeras untuk melanjutkan program pengayaan uranium. Kita harus katakan bahwa kemauan tersebut kiranya selaras dengan kebijakan yang dikeluarkan Badan Pengawas Nuklir (the International Atomic Energy Agency/IAEA).
Tidak hanya kepada Iran, dunia berharap banyak kepada Amerika Serikat agar tidak gampang cedera janji. Iran menyatakan sudah tiga kali berunding, namun hasilnya selalu berujung pada pengkhianatan atau serangan dari pihak Amerika Serikat.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) menyatakan perundingan akan digelar di Islamabad, ibu kota Pakistan, dalam jangka waktu maksimal 15 hari untuk memfinalisasi 10 butir syarat gencatan senjata yang diajukan kepada Amerika Serikat dan Israel. Harapannya adalah perdamaian di Timur Tengah bersifat permanen dan tidak semu.
Seiring kita menanti kabar baik dari perundingan Iran-Amerika Serikat, Indonesia harus belajar banyak dari konflik Timur Tengah. Betapa satu titik sempit, yakni Selat Hormuz yang lebarnya 33-39 kilometer, dapat memengaruhi negeri kita.
Pemerintah perlu mengkaji dengan sungguh-sungguh perihal kebijakan impor minyak mentah dari Arab Saudi yang menjadi salah satu pemasok Indonesia. Sebagian besar melewati Selat Hormuz dan sekitar 14% impor produk minyak olahan juga bersumber dari kawasan yang sama.
Publik juga berharap pengelola negara memperhatikan betul sisi ketahanan energi. Dari konflik di Timur Tengah, terkuak fakta terbatasnya kapasitas stok minyak bumi dan gas nasional Indonesia. Bauran energi serta perwujudan skala masif energi baru dan terbarukan yang sudah menjadi peta jalan, mesti ditaati secara penuh. Kita harus betul-betul siap ketika turbulensi akan kembali menghampiri negeri ini, karena satu-satunya kepastian global saat ini ialah ketidakpastian itu sendiri.