31 December 2025 13:33
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Haryadi Sukamdani, mengonfirmasi adanya penurunan signifikan pada rata-rata okupansi hotel di Bali menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026. Penurunan rata-rata di Bali mencapai 15 persen meskipun pihak hotel telah mencoba menurunkan harga antara 10 persen hingga 15 persen.
Penurunan paling terdampak terjadi di area Jimbaran, Pecatu, Ungasan, dan Nusa Dua, dengan penurunan rata-rata 20 persen. Haryadi menganalisis bahwa penurunan ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk berita negatif mengenai banjir dan isu kemacetan parah yang sempat viral, serta harga tiket pesawat yang masih dianggap mahal.
Sebaliknya, Yogyakarta menunjukkan kinerja yang sangat baik berkat inovasi dan banyaknya kegiatan baru yang diunggah secara intensif di media sosial. Tingginya minat masyarakat menjadikan Yogyakarta destinasi menarik karena dinilai lebih terjangkau, terutama dengan akses menggunakan kereta api atau kendaraan pribadi.
"Yogyakarta ini memang destinasi yang sangat inovatif. Banyak sekali kegiatan-kegiatan baru kuliner yang secara intensif di-upload di sosial media," ujar Haryadi Sukamdani, dikutip dari Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Rabu, 31 Desember 2025.
Haryadi juga melihat adanya tren pergeseran wisatawan domestik yang mencari destinasi lebih terjangkau di Pulau Jawa. Selain Yogyakarta, banyak destinasi baru yang tumbuh dan dieksplorasi oleh generasi muda, yang memicu sebaran wisatawan domestik menjadi lebih merata.
Mengenai Bali, Haryadi menyatakan bahwa permasalahan inti yang harus diselesaikan adalah masalah traffic dan kebersihan, seperti isu sampah. PHRI sendiri berupaya melakukan promosi untuk daerah di luar Kabupaten Badung agar sebaran wisata lebih merata.