Jakarta: Dunia astronomi memasuki babak baru dengan hadirnya Legacy Survey of Space and Time (LSST) Camera, kamera digital terbesar yang pernah dibuat. Dengan resolusi mencapai 3.200 megapiksel (3,2 gigapiksel) dan ukuran sebesar mobil kecil, kamera ini digadang-gadang mampu mengubah cara ilmuwan mengamati alam semesta selama satu dekade ke depan.
LSST Camera yang dipasang di Vera C. Rubin Observatory, Cerro Pachón, Chile, memiliki jumlah megapiksel yang setara dengan sekitar 260 sensor kamera ponsel pintar modern. Kemampuan tersebut memungkinkan kamera ini menghasilkan citra objek-objek langit dengan resolusi yang sangat tinggi.
Kamera LSST diperkirakan berukuran sebesar mobil kecil dengan berat sekitar 3.000 kilogram. Meski demikian, bobotnya jauh lebih berat dibandingkan mobil kecil pada umumnya. Saking tingginya kualitas gambar yang dihasilkan, diperlukan ratusan layar televisi ultra-HD untuk menampilkan satu foto secara penuh.
Meski berukuran sangat besar, proses penggantian filter kamera ini hanya membutuhkan waktu beberapa menit. LSST Camera dibangun dengan biaya sekitar USD 800 juta atau sekitar Rp14,4 triliun, melalui kolaborasi antara National Science Foundation (NSF) dan Department of Energy (DOE) Amerika Serikat.
Peran Penting LSST Camera dalam Mengungkap Alam Semesta
Sejak 10 Juli 2026,
LSST Camera resmi menjalankan misi astronomi ambisius yang direncanakan berlangsung selama 10 tahun. Vera C. Rubin Observatory di Cerro Pachón dipilih karena memiliki tingkat polusi cahaya yang sangat rendah serta atmosfer yang jernih, sehingga ideal untuk melakukan pengamatan langit.
Kemampuan resolusi tinggi
LSST Camera memungkinkan para ilmuwan mengamati miliaran objek di luar angkasa dengan tingkat detail yang belum pernah dicapai sebelumnya. Misi ini merupakan bagian dari program
Legacy Survey of Space and Time (LSST) yang bertujuan merekam perubahan alam semesta secara berkelanjutan.
Melalui survei langit terbesar yang pernah dilakukan, para peneliti berharap dapat memahami lebih jauh proses pembentukan dan perkembangan alam semesta. Sensor
LSST Camera juga mampu memotret area langit yang sangat luas hanya dalam satu kali pengambilan gambar, sehingga proses pemetaan langit dapat dilakukan jauh lebih cepat.
Setiap malam,
LSST Camera diperkirakan menghasilkan data hingga 10 terabyte (TB). Satu gambar yang dihasilkan memiliki ukuran rata-rata sekitar 6,4 gigabyte (GB). Selain itu, sistem kamera ini juga mampu memberikan notifikasi secara otomatis ketika mendeteksi perubahan di langit.
Tak hanya untuk mengamati alam semesta,
LSST Camera juga berperan penting dalam sistem pertahanan planet. Kamera ini mampu mendeteksi asteroid yang berpotensi mendekati Bumi. Dalam waktu sekitar enam pekan, observatorium berhasil mengidentifikasi 33 asteroid dekat Bumi dari sekitar 11.000 asteroid yang diamati. Menariknya, sebagian besar asteroid tersebut sebelumnya belum pernah teridentifikasi.
Selain itu,
LSST Camera diharapkan menjadi salah satu instrumen penting dalam mengungkap misteri terbesar kosmologi, yakni energi gelap (
dark energy) dan materi gelap (
dark matter).
Nah, itulah
LSST Camera, kamera digital terbesar di dunia yang menjadi tonggak baru dalam perkembangan astronomi modern. Dengan kemampuan menghasilkan citra beresolusi sangat tinggi dan memantau langit selama satu dekade, kamera ini diharapkan mampu membuka berbagai temuan baru, mulai dari asteroid yang mengancam Bumi hingga mengungkap misteri terbesar alam semesta.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Odetta Aisha Amrullah)